Kamis, 14 Februari 2008

REZIM ORBA MENGABAIKAN WILAYAH PERBATASAN

Field Note 14-18 Januari 2008


Inilah mungkin kesimpulan sepanjang perjalanan dari Tarakan hingga Sebatik. Kota Tarakan, sebuah kota pemekaran di era reformasi telah mengalami perubahan fisikly secara drastis. Kondisi bangunan yang tertata rapi, meskipun tidak sebaik Tawau Malaysia. Ketersediaan air yang cukup. Jika dibandingkan zaman dulu, jika warga menggali sumur atau mengebor untuk air, yang keluar justru air berminyak. Dan jelas tidak akan aman untuki dikonsumsi. Setiap rumah mempunyai talang terpanjang di dunia, untuk menampung air hujan. Sekarang, keadaan seperti itu agak berkurang. PDAM tersedia cukup. Selain itu, ketersediaan pasokan listirk juga mencukupi, sehingga jarang—bahkan tidak pernah—mati. Sebuah keadaan yang berbeda dengan Samarinda, (padahal ibu kota propinsi) atau sekitarnya yang menurut jadual mati dua kali dalam 1 minggu, tapi realisasinya bisa jadi 3 atau 4 kali dalam seminggu.

Selanjutnya, keberadaan bangunan bandara Nunukan saat ini masih sungguh memprihatinkan (sebagaimana gambar di samping ini). Ia tidak layaknya menggambarkan sebuah bandara, tapi rumah singgah untuk anak jalanan. Jalanan Nunukan saat ini luas dan beraspal cukup bagus, beberapa bangunan megah dan kantor tertata cukup rapi. Sebuah keadaan yang jauh berbeda dengan era orde baru.

Sekejap di Tawau, Malasyia

Tanggal 14-18 Januari 2007



Hanya beberapa jam kami di Tawau, salah satu kota bagian wilayah Malaysia yang berbatasan dengan bagian utara Tanah Kalimantan. Bahkan kami sempat masuk lebih jauh ke dalam untuk melihat salah satu kota yang berbatasan dengan Indonesia ini. (Pada gambar di atas, kami berada di Taman Tawau.)
Ada perbedaan yang cukup mencolok sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah Malaysia terencana dan terarah sehingga melahirkan keteraturan. Sebuah keadaan yang jauh berbeda dengan negara kita tercinta ini. Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua kalinya, tapi kunjungan kali ini lebih jauh masuk ke dalam.
Sepanjang perjalanan, marinir pengawas perbatasan mewajibkan para pelawat ke Tawau untuk menunjukkan Pas Lintas Batasnya (PLB)-nya, dan menurut pemparan awak speed, mereka meminta sesuatu. Entah apa sesuatu itu. Yang jelas setiap kali hendak berangkat, awak speed biasanya mempersiapkan sesuatu, seperti membeli rokok untuk diserahkan kepada penjaga perbatasan. Alkisah, mereka sering meminta “mail” Rupiah. Kemudian ketika melewati patroli polisi Malaysia, awak speed juga melaporkan PLB-nya dan menyerahkan sesuatu dalam bentuk makanan seperti Es Teh atau Nasi bungkus atau rokok juga. Katanya mereka tidak mau menerima uang, karena jika ketahuan hukumannya jauh lebih berat dari nilai uang yang diambilnya..
Tiba di pantai Tawau, tampak sekali bahwa pemerintah memperhatikan sepanjang pantai Tawau ini agar tidak terkena abrasi, dengan menaruh bebatuan gunung yang keras. Disamping bisa juga menjadi tempat tambatan kapal-kapal atau speed yang hendak masuk ke dalamnya.
Ketika kami memasuki Kota Tawau, kota kecil tapi ramai bahkan kota ini tampaknya didesain sebagai kota khusus untuk perdagangan. Selanjutnya, kami mencoba masuk lebih jauh lagi ke dalam Taman Bukit Tawau. Sepanjang perjalanan, keadaan jalan tidak ada yang berlubang atau tidak rata. Di sisi kanan dan kiti jalan, Perkebunan Sawit tumbuh subur dan tertata rapi, sehingga kota makin asri dan segar. Keadaan ini jelas berbeda dengan Sebatik, sepanjang perjalanan dari Blambangan atau Sedadap menuju ke Sungai Nyamuk, keadaan jalanan belum keras-keras, yang ada proses pengerasan terus, dan berlobang-lobang lagi. Bahkan ada yang terkena longsoran atau jembatannya putus. Kubangan kerbau sering membuat mobil macet, sehingga penumpang harus mendorongnya. Sepanjang sisi kiri dan kanan jalan yang ada hanyalah lahan kosong dan gundul yang ditumbuhi rumput ilalang, atau perkebunan coklat milik beberapa orang saja. Kadang ada juga lahan/hutan yang gundul. Kita tidak tahu apakah itu disengaja oleh pemerintah atau masyarakat. Yang disengaja saja, seperti pembukaan lahan sejuta hektar terbengkalai bahkan menyeret penggagasnya ke Rutan Salemba. Padahal, katanya untuk perkebunan Sawit. Sungguh ironis!
Sementara itu, di masyarakat pedesaan Malaysia, keadaannya juga tidak jauh berbeda dengan keadaan desa pada umumnya di Indonesia. Mungkin mereka lebih terproteksi kesejahteraaannya dibanding di negara Indonesia. Sempat juga kami melewati kamp-kamp TKI sebuah perusahaan plywood. Dan memang mereka terkungkung di dalamnya. Pagar tinggi mengelilingi lingkungan perusahaan dan rumah kamp tempat tinggal mereka.