Tanggal 14-18 Januari 2007

Hanya beberapa jam kami di Tawau, salah satu kota bagian wilayah Malaysia yang berbatasan dengan bagian utara Tanah Kalimantan. Bahkan kami sempat masuk lebih jauh ke dalam untuk melihat salah satu kota yang berbatasan dengan Indonesia ini. (Pada gambar di atas, kami berada di Taman Tawau.)
Ada perbedaan yang cukup mencolok sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah Malaysia terencana dan terarah sehingga melahirkan keteraturan. Sebuah keadaan yang jauh berbeda dengan negara kita tercinta ini. Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua kalinya, tapi kunjungan kali ini lebih jauh masuk ke dalam.
Sepanjang perjalanan, marinir pengawas perbatasan mewajibkan para pelawat ke Tawau untuk menunjukkan Pas Lintas Batasnya (PLB)-nya, dan menurut pemparan awak speed, mereka meminta sesuatu. Entah apa sesuatu itu. Yang jelas setiap kali hendak berangkat, awak speed biasanya mempersiapkan sesuatu, seperti membeli rokok untuk diserahkan kepada penjaga perbatasan. Alkisah, mereka sering meminta “mail” Rupiah. Kemudian ketika melewati patroli polisi Malaysia, awak speed juga melaporkan PLB-nya dan menyerahkan sesuatu dalam bentuk makanan seperti Es Teh atau Nasi bungkus atau rokok juga. Katanya mereka tidak mau menerima uang, karena jika ketahuan hukumannya jauh lebih berat dari nilai uang yang diambilnya..
Tiba di pantai Tawau, tampak sekali bahwa pemerintah memperhatikan sepanjang pantai Tawau ini agar tidak terkena abrasi, dengan menaruh bebatuan gunung yang keras. Disamping bisa juga menjadi tempat tambatan kapal-kapal atau speed yang hendak masuk ke dalamnya.
Ketika kami memasuki Kota Tawau, kota kecil tapi ramai bahkan kota ini tampaknya didesain sebagai kota khusus untuk perdagangan. Selanjutnya, kami mencoba masuk lebih jauh lagi ke dalam Taman Bukit Tawau. Sepanjang perjalanan, keadaan jalan tidak ada yang berlubang atau tidak rata. Di sisi kanan dan kiti jalan, Perkebunan Sawit tumbuh subur dan tertata rapi, sehingga kota makin asri dan segar. Keadaan ini jelas berbeda dengan Sebatik, sepanjang perjalanan dari Blambangan atau Sedadap menuju ke Sungai Nyamuk, keadaan jalanan belum keras-keras, yang ada proses pengerasan terus, dan berlobang-lobang lagi. Bahkan ada yang terkena longsoran atau jembatannya putus. Kubangan kerbau sering membuat mobil macet, sehingga penumpang harus mendorongnya. Sepanjang sisi kiri dan kanan jalan yang ada hanyalah lahan kosong dan gundul yang ditumbuhi rumput ilalang, atau perkebunan coklat milik beberapa orang saja. Kadang ada juga lahan/hutan yang gundul. Kita tidak tahu apakah itu disengaja oleh pemerintah atau masyarakat. Yang disengaja saja, seperti pembukaan lahan sejuta hektar terbengkalai bahkan menyeret penggagasnya ke Rutan Salemba. Padahal, katanya untuk perkebunan Sawit. Sungguh ironis!
Sementara itu, di masyarakat pedesaan Malaysia, keadaannya juga tidak jauh berbeda dengan keadaan desa pada umumnya di Indonesia. Mungkin mereka lebih terproteksi kesejahteraaannya dibanding di negara Indonesia. Sempat juga kami melewati kamp-kamp TKI sebuah perusahaan plywood. Dan memang mereka terkungkung di dalamnya. Pagar tinggi mengelilingi lingkungan perusahaan dan rumah kamp tempat tinggal mereka.