
Inilah mungkin kesimpulan sepanjang perjalanan dari Tarakan hingga Sebatik. Kota Tarakan, sebuah kota pemekaran di era reformasi telah mengalami perubahan fisikly secara drastis. Kondisi bangunan yang tertata rapi, meskipun tidak sebaik Tawau Malaysia. Ketersediaan air yang cukup. Jika dibandingkan zaman dulu, jika warga menggali sumur atau mengebor untuk air, yang keluar justru air berminyak. Dan jelas tidak akan aman untuki dikonsumsi. Setiap rumah mempunyai talang terpanjang di dunia, untuk menampung air hujan. Sekarang, keadaan seperti itu agak berkurang. PDAM tersedia cukup. Selain itu, ketersediaan pasokan listirk juga mencukupi, sehingga jarang—bahkan tidak pernah—mati. Sebuah keadaan yang berbeda dengan Samarinda, (padahal ibu kota propinsi) atau sekitarnya yang menurut jadual mati dua kali dalam 1 minggu, tapi realisasinya bisa jadi 3 atau 4 kali dalam seminggu.

Selanjutnya, keberadaan bangunan bandara Nunukan saat ini masih sungguh memprihatinkan (sebagaimana gambar di samping ini). Ia tidak layaknya menggambarkan sebuah bandara, tapi rumah singgah untuk anak jalanan. Jalanan Nunukan saat ini luas dan beraspal cukup bagus, beberapa bangunan megah dan kantor tertata cukup rapi. Sebuah keadaan yang jauh berbeda dengan era orde baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar