Kamis, 14 Februari 2008

REZIM ORBA MENGABAIKAN WILAYAH PERBATASAN

Field Note 14-18 Januari 2008


Inilah mungkin kesimpulan sepanjang perjalanan dari Tarakan hingga Sebatik. Kota Tarakan, sebuah kota pemekaran di era reformasi telah mengalami perubahan fisikly secara drastis. Kondisi bangunan yang tertata rapi, meskipun tidak sebaik Tawau Malaysia. Ketersediaan air yang cukup. Jika dibandingkan zaman dulu, jika warga menggali sumur atau mengebor untuk air, yang keluar justru air berminyak. Dan jelas tidak akan aman untuki dikonsumsi. Setiap rumah mempunyai talang terpanjang di dunia, untuk menampung air hujan. Sekarang, keadaan seperti itu agak berkurang. PDAM tersedia cukup. Selain itu, ketersediaan pasokan listirk juga mencukupi, sehingga jarang—bahkan tidak pernah—mati. Sebuah keadaan yang berbeda dengan Samarinda, (padahal ibu kota propinsi) atau sekitarnya yang menurut jadual mati dua kali dalam 1 minggu, tapi realisasinya bisa jadi 3 atau 4 kali dalam seminggu.

Selanjutnya, keberadaan bangunan bandara Nunukan saat ini masih sungguh memprihatinkan (sebagaimana gambar di samping ini). Ia tidak layaknya menggambarkan sebuah bandara, tapi rumah singgah untuk anak jalanan. Jalanan Nunukan saat ini luas dan beraspal cukup bagus, beberapa bangunan megah dan kantor tertata cukup rapi. Sebuah keadaan yang jauh berbeda dengan era orde baru.

Sekejap di Tawau, Malasyia

Tanggal 14-18 Januari 2007



Hanya beberapa jam kami di Tawau, salah satu kota bagian wilayah Malaysia yang berbatasan dengan bagian utara Tanah Kalimantan. Bahkan kami sempat masuk lebih jauh ke dalam untuk melihat salah satu kota yang berbatasan dengan Indonesia ini. (Pada gambar di atas, kami berada di Taman Tawau.)
Ada perbedaan yang cukup mencolok sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah Malaysia terencana dan terarah sehingga melahirkan keteraturan. Sebuah keadaan yang jauh berbeda dengan negara kita tercinta ini. Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua kalinya, tapi kunjungan kali ini lebih jauh masuk ke dalam.
Sepanjang perjalanan, marinir pengawas perbatasan mewajibkan para pelawat ke Tawau untuk menunjukkan Pas Lintas Batasnya (PLB)-nya, dan menurut pemparan awak speed, mereka meminta sesuatu. Entah apa sesuatu itu. Yang jelas setiap kali hendak berangkat, awak speed biasanya mempersiapkan sesuatu, seperti membeli rokok untuk diserahkan kepada penjaga perbatasan. Alkisah, mereka sering meminta “mail” Rupiah. Kemudian ketika melewati patroli polisi Malaysia, awak speed juga melaporkan PLB-nya dan menyerahkan sesuatu dalam bentuk makanan seperti Es Teh atau Nasi bungkus atau rokok juga. Katanya mereka tidak mau menerima uang, karena jika ketahuan hukumannya jauh lebih berat dari nilai uang yang diambilnya..
Tiba di pantai Tawau, tampak sekali bahwa pemerintah memperhatikan sepanjang pantai Tawau ini agar tidak terkena abrasi, dengan menaruh bebatuan gunung yang keras. Disamping bisa juga menjadi tempat tambatan kapal-kapal atau speed yang hendak masuk ke dalamnya.
Ketika kami memasuki Kota Tawau, kota kecil tapi ramai bahkan kota ini tampaknya didesain sebagai kota khusus untuk perdagangan. Selanjutnya, kami mencoba masuk lebih jauh lagi ke dalam Taman Bukit Tawau. Sepanjang perjalanan, keadaan jalan tidak ada yang berlubang atau tidak rata. Di sisi kanan dan kiti jalan, Perkebunan Sawit tumbuh subur dan tertata rapi, sehingga kota makin asri dan segar. Keadaan ini jelas berbeda dengan Sebatik, sepanjang perjalanan dari Blambangan atau Sedadap menuju ke Sungai Nyamuk, keadaan jalanan belum keras-keras, yang ada proses pengerasan terus, dan berlobang-lobang lagi. Bahkan ada yang terkena longsoran atau jembatannya putus. Kubangan kerbau sering membuat mobil macet, sehingga penumpang harus mendorongnya. Sepanjang sisi kiri dan kanan jalan yang ada hanyalah lahan kosong dan gundul yang ditumbuhi rumput ilalang, atau perkebunan coklat milik beberapa orang saja. Kadang ada juga lahan/hutan yang gundul. Kita tidak tahu apakah itu disengaja oleh pemerintah atau masyarakat. Yang disengaja saja, seperti pembukaan lahan sejuta hektar terbengkalai bahkan menyeret penggagasnya ke Rutan Salemba. Padahal, katanya untuk perkebunan Sawit. Sungguh ironis!
Sementara itu, di masyarakat pedesaan Malaysia, keadaannya juga tidak jauh berbeda dengan keadaan desa pada umumnya di Indonesia. Mungkin mereka lebih terproteksi kesejahteraaannya dibanding di negara Indonesia. Sempat juga kami melewati kamp-kamp TKI sebuah perusahaan plywood. Dan memang mereka terkungkung di dalamnya. Pagar tinggi mengelilingi lingkungan perusahaan dan rumah kamp tempat tinggal mereka.

Rabu, 02 Januari 2008

KEJUJURAN PARA PEMBELAJAR

Field Note Tanggal 8 Juli 2007

Sore pukul 14.30, setelah badan istirahat pasca melaut, tim berjalan-jalan ke masyarakat. Kebetulan hendak ke Rt. 13, kami berniat ketemua dengan pak arifin. Tapi rupanya beliau tidak ada, sedang jalan-jalan rupanya. Lalu kami duduk di tempat nongkrong. Ada beberapa anak muda yang tampaknya begitu mengenal YIIPS.
Pembicaraan kami ke sama kemari, untuk mendapatkan informasi tentang YIIPS, kami bertanya tentang lokasi dan bagaimana pandangan anak muda terebut tentang YIIPS.
“Sekarang YIIPS bagus. Alumninya nilainya tinggi,” tutur Supriyadi, si anak muda tersebut. Wah rupanya dia cukup tahu. Padahal dirinya tidak tuntas menyelesaikan studi sampai SLTA. Ketika ditanya mengapa tidak melanjtukan, “saat itu tidak ada biaya,” jawabnya. Agaknya dia tahu tentang sekolah gratis karena ada program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Makanya ketika dia ditanya tentang kira-kira hak yang menyebabkan anak-anak tidak sekolah, dia menjawab, “Dulu karena biaya, sekarang sekolah sudah gratis kok tetap ada yang tidak sekolah, saya kurang tahu masalahanya.” Jawabnya. Mislan, salah satu siswa MA YIIPS ketika di tanya, adakah kawan-kawn seusianya yang tidak sekolah? “ Yah, masih banyak?” Mengapa mereka tidak sekolah? “membantu orang tuanya melaut.” Saya cukup termangu mendengar pengakuannya.
Kalau di laut, gimana pelaksanaan shalatnya? Apakah anda diajari di sekolah?
“Gak, tapi guru fiqh pernah mengajar bahwa shalatnya pertama ngadap kiblat gitu.. terus selanjutnya jika kapal berputar-putar yang tidak apa-apa,” jawabbnya. Tentang guru YIIPS, dia hanya menjawabnya dengan tersenyum, “ya gitu lah..” gak tahulah makna dibalik ungkapan itu.
Pukul 18.00 lebih sedikit pak RT datang. Beliau langsung mengajak kami untuk naik ke rumah panggungnya.
Riswadi memberitahukan maksudnya, bahwa kedatangannya untuk bersilaturahmi sekaligus menggali informasi tanggapan masyarkat terhadap kebutuhannya akan pendidikan agama. “Masyarakat sangat membutuhkan pendidikan agama,” jawabnya dengan singkat. Ketua RT memandang bahwa pendidikan agama masih menjadi kebutuhan pokok, sehingga YIIPS masih menjadi madrasah harapan masyarkat.” Namun jika dikonsep dalam bentuk asrama, belum ada kejelasan tanggapan anak-anak . tapi pak RT sendiri menyekolahkan keponakan dan anaknya ke YIIPS. Kalaupun di YIIPS siswanya kurang banyak, karena di lingkungan Sebatik sini masyarakat masih melihat status negeri lebih dibanding swasta. “Tapi itu dulu, kalau sekarang sudah tidak begitu,” tuturnya menegaskan. Memang, sekolah negeri lebih menjanjikan di banding sekolah swasta. Sekolah negeri dipandang lebih bisa menelorkan lulusan yang berkualitas dan sarana menjadi memadai. Itulah yang menyebabkan kuantitas input YIIIPS berjalan perlahan bahkan cenderung stagnan. Memang, ketika hal itu dikonfirmasi ke pihak yayasan pengelolan MA YIIPS, “Sekarang, persepsi masyarakat masih seperti itu. Memandang sekolah negeri mempunyai nilai lebih dibanding swasta,” terang Abdul Sani, Kepala MA YIIPS.
Waktu yang tersedia memang cukup terbatas untuk menggali informasi dari Ketua RT 13 ini. Namun keterbatasannya itu kami manfaatkan untuk menggali info-info penting.
“Bagaimana sejarah awal berdirinya YIIPS ini? Bapak tahu gak?” tanya kami memulai pembicaraan yang lebih fokus. Sejenak, Pak RT berpikir dan kemudian menjelaskan perlahan, ”Dulu murid di YIIPS awalnya sedikit sekali. Bahkan para pendiri yayasan harus minta-minta ke orang-orang, dari rumah ke rumah, untuk memasukkan anak-anaknya ke madrasah di YIIPS tersebut. Bahkan pak Suniman sampai menyampaikan di saat khotbah jumat.”
Apakah, masyarakat juga dimintai partisipasinya untuk YIIPS?
“Ya, dulu kami bersama-sama memberi sumbangan ke YIIPS, yang mampu membelikan seng, yah seng yang dikasihnya, yang mampu tenaga, dia nyumbang tenaga, dan lain sebagainya?”
Sekarang, apakah pihak YIIPS sering meminta partisipasi ke masyarakat?
“Sekarang ini tidak pernah,” jawabnya singkat. “Kira-kira kenapa,” tanya tim menyelidik. “wah tidak tahu yah” jawabnya.
Berapa sering, masyarakat dilibatkan dalam rapat dengan sekolah?
“Jarang yah. Paling hanya 1 kali selama satu semester”
“Pas penerimaan raport yah.” Tanya riswadi menduga.
“Ya, begitulah,” jawabnya.
Bersamaan dengan itu, suara azan menggema. Lalu, tim harus pamit pulang. Selanjutnya, di bawah riswadi menanyakan kepada Mistan, yang kebetulah ponakan dari pak RT untuk bertemu nanti malam. “ajak kawan-kaannya yah.. sekitar 7 anak lah,” pintanya. “Yah.. nanti di usahakan,” jawab mistan. Sambil memberikan nomor HP-nya kepada Riswadi.
***
Hari menjelang malam. Sesudah menunaikan shalat isya’, kami ngobrol-ngobrol rencana penggalian informasi di hadapan anak-anak YIIPS ini.
Tiba waktunya, pukul 18.45, anak-anak yang kami undang bersdatangan ke penginapan. Lalu, saya dan riswadi mengajak mereka untuk mencari tempat café untuk bincang-bincang. Sengaja, pak Bukhari tidak kami ajak, karena ini adalah dunia anak muda, dunia gaul gitu…
Kami menuju jembatan dermaga terpanjang di Pulau Sebatik, di Sei Nyamuk. Karena di tengah-tengah jembatan dermaga tersebut terdapat café yang tepat untuk melakukan penggalian informasi. Saat itu, anak-anak yang datang berjumlah 7 orang, Mistan, Supriyadi, Iwan, (sisanya tidak saya ingat namanya).
Kami menggali informasi dari anak-anak ini mulai dari perasaannya belajar di YIIPS. “Yah.. lumayan, menyenangkan.”
“Apanya yang menyenangnkan,” celethuk anis. “Jam kosongnya atau sistem belajarnya, atau apanya..?” sambung riswadi.
Rupanya gayung bersambut celetukan tim, “Ya itu salah satunya, jam kosongnya,“ jawab temannya Mistan.
“Kira-kira siapa guru yang menarik dalam mengajarnya?”
mereka berpikir sejenak, lalu salah satu pengurus OSIS menjawab, “Saya melihat Pak Arif yang menarik,” jawabnya agak ragu. “kira-kira apa yang menarik?” tanya kami menyelidik. “Beliau kalau ngajar, cara menjelaskannya sampai benar-benar jelas. Kalau belum jelas, dijelaskan lagi hingga jelas,?” tuturnya menjelaskan.
Tapi, itu baru pembicaraan permulaan. Terasa masih ada rasa takut untuk mengungkapkan apa yang senyatanya. Mereka tampaknya menyadari kalau mereka akan digali infonya tentang YIIPS. Padahal kami seudah memnbawa pembicaraan ke alam mereka yang agak gaul.
“Kira-kira siapa guru yang sering tidak masuk?”
“Wah ada beberapa. Terutama yang nyambi di luaran.” Jawabnya agak takut. Siapa kira-kira. “itu yang pegawai kecamatan”
“Kalau bu Mus..?”
“Ibu itu, sebelum ngajar ngomel-ngomel meluluk.” Jawab salah satu muris YIIPS
”kalau yang lainnya gimana?”
“Ada yang banyak ceramahnya dari pada materi pelajarannya, dan lain sebagainya.” Jawabnya menjelaskan.
Kami juga menanyakan bagaimana perkembangan siswa, dan mengapa rekan-rekanya tidak ikut masuk di madrasah.
Supriyadi menjelaskan, “Masyarakat sini masih melihat status negerinya pak, jadi kalau negeri itu seolah ada masa depannya gitu.”
Obrolan kami bersama anak-anak siswa YIIPS dan pemuda ini sampai pukul 23.25. “Wah sudah malam nih. Gimana, pulang?” Tawaran anis.
Suasana saat itu memang agak menjenuhkan, karena anak-anak menjawabnya dengan jawaban yang serba terbatas dan jawaban yang singkat. Entah tim yang sudah tercium maksudnya, atau memang mereka tidak terbiasa dengan suasana seperti itu. Saya sendiri merasakan bahwa pembicaraannya sangat kaku dan membosankan. “Tidak menarik pembicaraan kami ini,” batin saya.
Kami harus menghentikan dulu dan dilanjukan kapan-kapan. Sebubarnya obrolan kami, kami menyimpulkan bahwa anak-anak di sini memang tidak terbiasa untuk aktif berbicara. Maklum anak-anak perkampungan.
Lalu kami menuju ke penginapan. “Astaghfirullah!!” ucap anis seketika. “Wah, bannya kayaknya bocor nih..”
“ Waduh! Kita harus dorong ini sampai hotel ini.” Keluh Riswadi yang kebtulah bertugas menuntun motornya.
Sempat khawatir juga di benak saya, tengah malam dorong motor. Jangan-jangan langsung diteriaki orang ‘Maling’ wah bisa berabe kalau gini. Kami gak bawa surat-suratnya lagi. Karena kami di warga pesisir laut, suku Bugis, dan lain sebagainya. Maka di kerumunan-kerumunan orang, tampaknya banyak juga yang menyadari dan menyapa kami, ” Kenapa pak?” tanya pedagang bakso.
“Bocor pak, adakah tambal ban dekat sini,” jawab dan sekaligus tanya Riswadi. “Malam gini gak ada pak,” jawab tukang bakso.
Melewati tempat orang-orang main kartu remi, kami juga menyapa. Dan begitu seterusnya hingga sampai ke penginapan. Sampai dengan selamat.

“PENYELUNDUPAN”; PENYELAMATAN EKONOMI PERBATASAN

Field Note 8 Juli 2007



Ke manakan hasil-hasil tangkapan nelayan dijual? Pertanyaan ini muncul di benak saya yang langsung saya tanyakan kepada nelayan di Sebatik. “Ke Malasyia?” Jawabnya. Mengapa? “Karena harga jualnya lebih tinggi dibanding ke warga Indonesia,” komentar beberapa orang. Memamg sempat kami berpapasan di tengah laut dengan beberapa nelayan yang membawa hasil tangkapannya untuk dijual di Tawau, negeri “Sebelah.” Begitulah mereka menyebut Tawau, Malasyia. Terlalu keren untuk menyebut luar negeri. Begitu juga dengan pengebun coklat, kelapa sawit. Para petani yang membudidayakan tanaman tersebut dengan jumlah yang terbatas akan menjualnya ke pedagang malasyia. Jaraknya lebih dekat dan biaya lebih murah. Sedangkan harganya di atas standar Indonesia.
Kehidupan nelayan dan petani memang demikian adanya. Semangat perjuangan mereka gigih, namun giliran pemasarannya mereka jelas merasa kesulitan untuk ke Kota. Alternatif mempertahankan kehidupan perekonomiannya yah dengan menjual ke negara tetangga meskipun tanpa disertai ijin ekspor. Secara hukum mereka bisa disebut melakukan ‘penyeleundupan.’ Dan memang, polisi laut juga sudah sama-sama tahu. Baik polisi Indonesia maupun polisi malasyia.
Bayangkan jarak tempuh ke Nunukan mencapai 2 – 2,5 jam dengan menelan biaya 100 ribu (via laut) dan 200 ribu (via darat). Apalagi ke tarakan, bisa mencapai 2,5 – 4 jam dengan biaya 150 ribu (via laut). Sedangkan ke Tawau, hanya 15 menit dengan biaya kira-kira 15 ribu (5 ringgit). Jelas masyarakat akan memilih jarak tempuh yang lebih dekat dan menguntungkan.
Keadaan yang sama adalah barang-barang konsumsi masyarakat Sebatik. Kue-kue jajanan, beras, minyak goreng, bahkan barang untuk bahan bangunan, elpiji, dan lain sebagainya didatangkan dari negeri seberang. Ada yang legal, ada pula yang ilegal. Tampaknya yang terakhir ini lebih banyak. Kapal-kapal bersandar pantai-pantai Sebatik di malam hari, dengan ditutupi sebuah terpal/deklit. Kurang tahu apa isinya, tapi diperkirakan barang-barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat sebatik.
Itulah yang dilakukan. Dengan begitu kehidupan mereka tetap stabil. Bahkan mata uang yang dipergunakan adalah mata uang ringgit malaysia. Jarang yang memakai rupiah.
Seyogyanya, pemerintah lebih peka terhadap keadaan ini.

DEPORTASI TKI; BERKAH BAGI SEBATIK

Field Note 8 Juli 2007

“Kasus deportasi TKI ilegal dari Malasyia beberapa tahun itu membawa berkah bagi Sebatik ini.” Komentar Mus Mulyadi, Sekretaris YIIPS yang juga sekaligus mantan Sekretaris urusan logistik untuk TKI saat itu. “Karena deportasi tersebut, di Nunukan ada Rumah Sakit, Kantor Kapolres, dan perhatian pemerintah meningkat,” tuturnya.
“Apalagi setelah kasus Ambalat. Perhatian pemerintah terhadap perbatasan makin meningkat, jalan-jalan mulai diperbaiki, listrik jarang mati, dan lain-lain.”
Yah.. begitulah komentar beberapa warga perbatasan. “Sengsara membawa nikmat, kata roma Irama,” tutur Suniman menimpali pembicaraan.
Memang, perjalanan kami dari Pelabuhan Bambangan menempuh jalan yang masih dalam proses pengerasan. Jalan dipenuhi kerikil pra aspal sepertiganya jarak Bambangan – Sungai Nyamuk. Itu menunjukkan bahwa proses pembukaan dan perbaikan jalan baru beberapa tahun terakhir.
“Keadaan seperti itu sudah baik pada tempatnya… he…he..,” begitulah jawabnya ketika kami menanyakan kondisi jalan via telpone dengan tertawa ke Pak Sani, Kepala MA YIIPS.
Kasus ambalat sendiri bagi warga Sebatik bukanlah peristiwa yang luar biasa. Bahkan ketika beberapa warga di tanya tentang kemauan Malasyia memasukkan Sebattik sebagai bagian dari wilayahnya, warga malah menjawab, ‘Kami mau Sebatik dimasukkan ke dalam wilayah Malasyia, tapi harus bersama-sama warga di dalamnya. Tapi kalau hanya mau tanahnya, mendingan berdarah-darah,” komentar Supardi, seorang pemuda yang berusia antara 20-25 an.
Bahkan ketika kapan KRI mondar-mandir di lautan Sebatik, malah menjadi tontonan yang menarik bagi warga.
Kasus perbatasan makin mempercepat pembangunan perbatasan. “Sebentar lagi, Sebatik akan menjadi kota Besar,” kata Suniman, salah satu tokoh masyarakat.
Jikalau dilihat dari peredaran mata uang, kehidupan Sebatik lebih dekat ke Malasyia. Mata Uang ringgit lebih banyak beredar dibanding rupiah. Jalur perdagangan lebih banyak ke Tawau di banding ke Nunukan apalagi ke Balikpapan. Makanan-makanan kecil yang dijajakan juga lebih banyak produksi Tawau, Malasyia. Hampir tiada jajanan yang merupakan produk Indonesia. Inilah yang secara perlahan akan menggerus semangat dan nilai kebangsaan.
Jakarta diharap peka terhadap keadaan seperti ini.

Senin, 17 Desember 2007

Profil Program Perbatasan

A. RINGKASAN PROGRAM

Pelaksana Program :

Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Samarinda dan Kanwil Depag Prop. Kalimantan Timur
Alamat :
Jl. KH Abul Hasan No. 03 Samarinda Kalimantan Timur Phone: 0541-742193, 0541-732717 email: p3m_stainsmd@yahoo.com
Nama Program :
Pendampingan Madrasah YIIPS sebagai Pusat Belajar bagi Putra-Putri Tenaga Kerja Indonesia
Lokasi Program :
Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur
Fokus Capaian Program :
1. Putra-putri TKI dapat mengenyam pendidikan yang layak
2. Timbulnya kesadaran pentingnya pendidikan bagi putra-putri TKI
3. Madrasah YIIPS Terpadu
Ketua Tim:
Anis Masykhur, MA
HP: 0816.483.5381 / 0852.503.526.59


B. INFORMASI UMUM
B.1. Konteks Program

Posisi Kabupaten Nunukan yang terletak di sebelah Utara yang merupakan perbatasan Indonesia Malaysia merupakan posisi yang strategis dalam peta lalu lintas antar negara. Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia, Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Sulawesi, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bulungan dan Malinau, sedang di Sebalah Barat berbatasan dengan Serawak, Malaysia Timur.
Kabupaten Nunukan ini merupakan Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bulungan pada tahun 1999. Sebagai sebuah wilayah perbatasan, maka Nunukan juga banyak menjadi perhatian. Kasus perseteruan batas wilayah Ambalat, juga menyinggung batas wilayah—termasuk—Nunukan. Karena ambalat berada di sebelah timur dari Nunukan.
Wilayah perbatasan adalah kawasan strategis karena letaknya yang langsung berhadapan dengan wilayah lainnya. Apalagi jika wilayah tersebut mempunyai potensi cukup besar, baik bidang SDA-nya maupun SDM-nya. Namun sayangnya, potensi wilayah perbatasan yang sangat besar tersebut belum banyak dimanfaatkan secara optimal, sehingga wilayah tersebut tergolong dalam kawasan tertinggal, terisolir dan belum berkembang.
Termasuk pula di bidang pendidikan, bahwa wilayah perbatasan sebagaimana halnya di daerah-daerah lain, tingkat pendidikan masyarakat relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Persebaran sarana dan prasarana pendidikan yang tidak dapat menjangkau desa-desa yang letaknya tersebar dengan jarak yang berjauhan, mengakibatkan pelayanan pendidikan di wilayah perbatasan tertinggal dibanding daerah lain.
Disamping sarana pendidikan yang sangat terbatas, minat penduduk terhadap pendidikan pun masih relatif rendah. Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya penduduk daerah perbatasan yang meninggalkan desa untuk bersekolah namun tidak menamatkan sekolahnya. Seringkali sekolah-sekolah di wilayah perbatasan terpaksa tutup karena murid-muridnya meninggalkan sekolah untuk memanen hasil pertanian mereka.
Sebagai akibat rendahnya tingkat pendidikan dan mudahnya akses informasi yang diterima negara tetangga melalui siaran radio, televisi, dan interaksi langsung dengan penduduk di negara tetangga maka orientasi kehidupan sehari-hari penduduk di perbatasan lebih mengacu kepada Serawak-Malaysia dibanding kepada Indonesia. Kondisi ini tentunya sangat tidak baik terhadap rasa persatuan, kebangsaan dan potensial memunculkan aspirasi disintegrasi.
Selain itu, wilayah perbatasan sangat rawan menjadi transit perdagangan gelap, termasuk perdagangan manusia terselubung. Dari hasil beberapa penelitian dan analisa para pakar disebutkan bahwa faktor-faktor yang mendorong terjadinya perdagangan manusia ini sangat beragam. Beberapa diantaranya adalah kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, konflik sosial, peperangan, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya kesempatan kerja, lemahnya penerapan hukum, serta pengaruh gaya hidup yang hedonistic.
Terbatasnya fasilitas umum dan infrastruktur serta kesempatan kerja yang tersedia di wilayah perbatasan mendorong penduduk untuk menyebrang ke Malaysia untuk bekerja di sektor perkebunan yang tidak membutuhkan ketrampilan tinggi sehingga berpotensi memunculkan praktek perdagangan manusia.
Program pendampingan dan pemberdayaan madrasah yang berorientasi peningkatan mutu pendidikan bagi warga perbatasan menjadi menarik untuk dilakukan sebagai implementasi untuk mempertahankan nilai-nilai kebangsaan Indonesia dan mengurangi aktivitas itu.
Yayasan Islam Indonesia Pulau Sebatik yang kemudian sering dikenal dengan YIIPS telah memulai untuk itu. Dengan penyelenggaraan pendidikan mulai dari jenjang Raudhatul Athfal (RA) s.d. Madrasah Aliyah (MA), mereka berusaha meningkatkan SDM warga perbatasan. Untuk itulah, pendampingan diarahkan ke yayasan ini.

C. DISKRIPSI PROGRAM

I. Kondisi Dampingan Saat Ini
YIIPS menyelenggarakan pendidikan di semua jenjang, dari RA hingga jenjang Madrasah Aliyah. Jumlah siswa MTs sebanyak 221 siswa, Siwa MA sebanyak 200-an. YIIPS yang berada di Kecamatan Pulau Sebatik merupakan daerah terpadat dibanding daerah lain.
Sedangkan Madrasah lain yang berada di Kabupaten Nunukan Daerah yang menjadi pilihan program ini adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Khairat Nunukan, Madrasah Tsanawiyah (MTs) YIIPS Nunukan, Ibtidaiyah (MI) Al-Khairat Nunukan, Madrasah Aliyah (MA) YIIPS Nunukan, Madraasah Ibtidaiyah (MI) H. Beddurahim, Madrasah Ibtidaiyah (MI) As-Adiyah Nunukan, Dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Iman Nunukan. Madrasah tersebut mempunyai potensi untuk berkembang dan dapat memerankan lebih optimal sebagai wilayah perbatasan.
Dibanding yang lain, YIIPS relatif lebih sering menerima bantuan fisik, karena kualitas SDM yang siap mencari akses ke luar wilayah Nunukan.
MA YIIPS saat ini hanya menjadi tempat belajar bagi putra warga sekitar, sehingga jumlah siswanyapun tidak begitu banyak hanya berkisar 140 anak (rata-rata 35 siswa).
Sejarah YIIPS
Bagaimana sih awal inisiatif berdirinya YIIPS ini? Apa yang melatarbelakanginya?
Para pendidi YIIP merasa bahwa pulau Sebatik ini akan menjadi Kota Besar di masa depan. Sementara lembaga pendidikan yang ada, terutama pendidikan agama sangat terbatas. Untuk itu perlu didirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Lalu mengapa yayasannya diberi nama Yayasan Islam Indonesia Pulau Sebatik?
“Saya dan Mas Daud awalnya berdebat untuk memberi nama As’adiyah atau Al-Khairat. Tapi jika menggunakan nama almamater, rasanya masyarakat akan kurang merasa memiliki. Makanya kami beri nama Pulau Sebatik ini,” jawab Suniman, salah satu pendiri YIIPS.
Pada tahun 1989 dibukalah MTs dengan murid hanya 7 orang, dengan pengajarnya yang berganti-ganti. Suniman dan Mas Daud yang merupakan inisiator Yayasan secara menyeluruh menjadi guru andalan di yayasan ini. Kebetulan saat itu, dia belum beristri, sehingga relatif agak bebas. Menurut penuturan masyarakat, bahwa setiap orang yang mengabdi mangajar di Sebatik ini tidak akan bertahan lama, maksimal 3 bulan. Hal demikian terjadi karena permasalahan gaji yang minim. Bahkan ketika para pendirinya sampai di Sebatik ini, dia juga diduga masyarakat seperti itu pula. Tampaknya masyarakat juga memahami bahwa “kaburnya” para guru agama di Sebatik ini karena tiadanya gaji. Maka masyarakat juga berinisiatif untuk memberikan bayaran kepada guru baru tersebut sebesar Rp. 50.000,- setiap bulannya. Uang itu dikumpulkan dari masyarakat.
Pada tahun 1996, MA baru didirikan. Perkembangan di tahun pertama hanya 1 orang saja. lalu sampai di akhir tahun sampai 7 orang. Sekarang murid YIIPS menjadi ratusan. Untuk Siswa MTs-nya sebanyak 230-an, sedangkan siswa MA-nya sebanyak 140 anak, dan yang Drop out hanya 2 anak.

Konteks Masyarakat Sebatik dan Masyarakat Perbatasan
1. Kehidupan Nelayan dan Petani
Masyarakat Sebatik sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Mereka mencukupi kehidupannya dari mata pencaharian tersebut. Hasil tangkapan ikan kadang di jual di masyarakat lokal, tapi tidak jarang pula harus dijual ke tawau, karena di sana harganya lebih mahal.
Sementara itu, beras yang dihasilkan petani juga tidak banyak. Akhirnya, beras harus didatangkan dari luar Sebatik, bahkan termasuk dari negara “Sebelah.” Khusus dari Malaysia, beras dan juga barang-barang dagangan lain datang dengan diselundupkan, tentunya di malam hari.
Masyarakat Kabupaten Nunukan secara keseluruhan yang bermata pencaharian ini di atas 50%, tepatnya 54,75%. Sedangkan kehidupan pertanian di era kini dipersepsikan identik dengan kemiskinan.

2. Perekonomian dan Perdagangan
Kehidupan perekonomian masyarakat disangga dari pertanian, nelayan dan perkebunan. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, masyarakat yang berkecimpung di Perdagangan adalah 18,01%.
Ada beberapa karakteristik yang menggambarkan masyarakat Sebatik ini mempunyai kehidupan yang berbeda dengan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya. Misalkan dalam transaksi sehari-hari mereka menggunakan mata uang ringgit. Belanja kehidupan sehari-hari lebih dekat ke wilayah Tawau. Cost yang dikeluarkan untuk ke

3. Perikanan
Lain Pertanian lain pula Perikanan. Kehidupan masyarakat Nelayan yang berada di pesisir pantai cukup memprihatinkan. Jarak tempuh ke ibu kota Kabupaten yang cukup jauh menyebabkan para nelayan menjual hasil tangkapannya ke Tawau, sebuah daerah wilayah malaysia di perbatasan. Kota Tawau adalah kota yang diproyeksikan untuk kota perdagangan. Disamping jarak tempuhnya lebih dekat, harga belinya lebih tinggi dibanding harga di Indonesia.
Pasca tragedi Ambalat, yakni peristiwa perebutan ambang batas wilayah teritorial, yang di dalamnya diprediksikan mengandung minyak bumi yang melimpah, pemerintah kabupaten membuat kebijakan memfasilitasi para petani untuk mengelola rumah tangkap ikan di tengah laut, yang orang menyebutnya dengan istilah ”bagan.” Dengan kata lain, bagan itu adalah "bagan politik."
Bagan dibangun dari kontruksi pepohonan pantai—sejenis pohon galam—yang biasanya mempunyai ketinggian 15 s.d. 25 m. Batang-batang pohon tersebut ditancapkan hingga mencapai dasar laut. Sebelum itu, seorang nelayan telah merakit lantai bagan di pantai. Rakitan tersebut kemudian diseret dengan kapal/speed ke tempat yang direncanakan untuk dibangun bagan.
Selanjutnya, batang-batang pohon yang telah ditancapkan tersebut di rakit sedemikian rupa di bagian permukaannya, lalu diikatkan dengan rakitan lantai bagan yang dibawa dari tepi pantau. Jarak ketinggian lantai bagan dengan permukaan laut berkisar antara 3 s.d. 5 m. Di tengah-tengah bagan dibangun sebuah pondokan kecil untuk tempat berteduh dari derasnya hujan dan kencangnya angin laut.
Dari hasil bagan tersebut penghasilan rata-rata nelayan adalah Rp. 2.000.000,- per minggunya. Bahkan ada yang lebih tinggi, yakni Rp. 5.000.000,-.
Namun keberuntungan memang tidak dimiliki setiap orang. Ada juga, karena konstruksi bagan tidak kokoh, bagan bisa roboh tersapu ombak laut. Ada juga yang terpaksa dijual kembali kepada nelayan yang kaya lagi tangguh. "Hasil bagan itu tidak terlalu menjanjikan," kata Musmulyadi di tengah proses pengorganisasian gagasan pengembangan ekonomi YIIPS.
4. Pendidikan
Lembaga pendidikan di Pulau Sebatik ini sudah cukup memadai. Pembukaan unit sekolah baru mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah sudah agak memadai. Hanya saja, ada problem jarak, sementara ketersediaan fasilitas dan sarana transportasi sangat terbatas.
Apalagi ketika hendak melanjutkan ke Jenjang Perguruan Tinggi. Masyarakat Sebatik harus mengeluarkan biaya ekstra, karena belum tersedia perguruan tinggi di wilayah tersebut. Baru di akhir tahun 2007, ada perguruan tinggi Islam (STAI) Ibnu Khaldun. Animo masyarakat juga cukup besar, perguruan tersebut menerima jumlam siswa lebih dari 200 mahasiswa tahun ini. Kalaupun ke luar Sebatik, mereka lebih suka ke Palu, atau Universitas Borneo di Tarakan.
Peluang Menjaring Putra-Putri TKI
Berdasarkan data pihak konsulat, ada sekitar 36.000 anak TKI yang berada di sekitar Tawau dan Kinabalu. Sebagian besar dari mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak, karena ada kendala Surat Keterangan Kependudukan orang tuanya yang bermasalah. Antara lain karena orang tuanya adalah tenaga kerja ilegal.
Untuk itu ada beberapa kekhawatiran, di antaranya adalah jika anak mereka telah keluar dari wilayah Malasyia (misalkan untuk belajar di Pulau Sebatik), kemungkinan besar mereka tidak akan bisa kembali ke Malasyia bersama-sama orang tuanya. Karena perizinannya tidak mereka punyai.
Sementara itu di YIIPS sedang berupaya mempersiapkan ke arah itu. Penempatan para santri yang berasal dari luar Pulau Sebatik atau jauh jangkauannya akan dimulai dimukimkan di rumah penduduk. Langkah yang perlu dilakukan dengan segera adalah koordinasi bersama-sama dengan masyarakat setempat.
YIIPS saat ini sedang mempersiapkan bangunan asrama yang dibantu Departemen Agama.
Sementara untuk mengetahui tingkat antusiasme masyarakat terhadap pendidikan agama, mulai semester ini akan dimulai pendidikan ala pesantren, meskipun tidak menginap.

Ancaman Kebudayaan
Roda kehidupan perekonomian masyarakat perbatasan yang tergantung dengan negara "sebelah" cukup mengancam eksistensi masyarakat Sebatik sebagai bagian dari warga kebangsaan Indonesia.
Dari paparan di atas, bahwa kegiatan-kegiatan perekonomian yang dilakukan melalui jalur "penyelundupan" seolah dilegalkan. Apalagi pemerintah kurang begitu mengindahkan persoalan riil ini.
Apalagi perputaran mata uang juga menggunakan mata uang negara "sebelah" sedangkan rupiah lumayan sulit untuk dicari. Pasca keberadaan BRI mempunyai pengaruh terhadap perputaran uang ini. Rupiah mulai tampak terlihat di pasaran.
Pasca peristiwa deportasi TKI dari Malaysia tahun 2004-2005 dan peristiwa Ambalat di pertengahan 2005 telah membawa berkah bagi masyarakat perbatasan terutama masyarakat Sebatik. Perhatian Pemerintah makin meningkat terhadap perbaikan infrastruktur, seperti Rumah Sakit, Kantor Pelayanan Keamanan Masyarakat (Polisi dan Kodim), dan lain sebagainya. Hampir setiap departemen memberikan alokasi program dan kegiatannya untuk daerah perbatasan. Mulai dari pembangunan jalan protokol, hingga ke pada perbaikan-perbaikan penambahan energi dan jaringan air PAM.
Ke manakan hasil-hasil tangkapan nelayan dan hasil pertanian dijual? “Ke Malasyia?” Jawab warga setempat. Mengapa? “Karena harga jualnya lebih tinggi dibanding ke warga Indonesia,” komentar beberapa orang. Memamg sempat kami berpapasan di tengah laut dengan beberapa nelayan yang membawa hasil tangkapannya untuk dijual di Tawau, negeri “Sebelah.” Begitulah mereka menyebut Tawau, Malasyia. Terlalu keren untuk menyebut luar negeri. Begitu juga dengan hasil perkebunan coklat, kelapa sawit, atau hasil perkebunan lainnya. Para petani yang membudidayakan tanaman tersebut dengan jumlah yang terbatas akan menjualnya ke pedagang Malaysia. Jaraknya lebih dekat dan biaya lebih murah. Sedangkan harganya di atas standar Indonesia.
Kehidupan nelayan dan petani memang demikian adanya. Semangat perjuangan mereka gigih, namun giliran pemasarannya mereka jelas merasa kesulitan untuk ke Kota. Alternatif mempertahankan kehidupan perekonomiannya yah dengan menjual ke negara tetangga meskipun tanpa disertai ijin ekspor. Secara hukum mereka bisa disebut melakukan ‘penyelundupan.’ Dan memang, polisi laut juga sudah sama-sama tahu. Baik polisi Indonesia maupun polisi Malaysia.
Bayangkan jarak tempuh ke Nunukan mencapai 2 – 2,5 jam dengan menelan biaya 100 ribu (via laut) dan 200 ribu (via darat). Apalagi ke tarakan, bisa mencapai 2,5 – 4 jam dengan biaya 150 ribu (via laut). Sedangkan ke Tawau, hanya 15 menit dengan biaya kira-kira 15 ribu (5 ringgit). Jelas masyarakat akan memilih jarak tempuh yang lebih dekat dan menguntungkan.
Akar kebudayaan dan tradisi Masyarakat Sebatik terancam tergerus oleh tradisi negara tetangga. Bisa-bisa semangat kebangsaan Indonesia perlahan-lahan terkikis karena kepentingan ekonomi dan upaya mempertahankan kehidupannya.

II. Kondisi Yang Diharapkan
a. Cita-Cita Program
Melalui program ini, di lingkungan masyarakat Sebatik pada umumnya dan YIIPS khususnya pada lima tahun ke depan mampu menjadi pusat belajar bagi putra-putri TKI khususnya. Disebutkan oleh Konsulat Indonesia di wilayah Sabah bahwa putra-putri TKI yang tersebar di Malaysia mencapai 36.000 anak yang sebagian besar tidak terjamin pendidikannya. Anak-anak tersebut hanya membantu para orang tuanya, dan itupun tidak produktif, karena mereka hanya bisa membantu di saat-saat musim panen.
Untuk itu, dalam jangka waktu panjang, program ini juga diharapkan bisa menarik para TKI tersebut untuk kembali ke Tanah Air dengan mencarikan pengganti lahan pekerjaan yang akan di tempatkan di Kabupaten Nunukan atau Malinau, dengan menjaring Kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat.
Untuk hal ini, pemerintah kabupaten Nunukan telah memberikan lahan lebih dari 100 Ha kepada Yayasan Ummul Qura yang merupakan cikal bakal berdirinya Pesantren Ummul Qura Nunukan. Pendampingan ini akan melibatkan Yayasan tersebut, karena memiliki visi yang sama.

b. Perubahan yang Diharapkan
Dari pendampingan ini, kondisi yang diharapkan dari YIIPS adalah sebagai berikut:
1. YIIPS menjadi pusat studi masyarakat di wilayah perbatasan, dan bahkan mampu menarik putra-putri Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di negari tetangga, Malaysia. Karena diperkirakan Jumlah Putra-Putri TKI di Malaysia mencapai 36.000 anak yang pendidikannya kurang terjamin oleh sistem yang ada.
2. Meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan di Kecamatan Pulau Sebatik, yang ditandai dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap dunia pendidikan dan tumbuhnya keinginan untuk menyekolahkan putra-putri wagrga masyarakat sekitar.

III. Alasan Memilih YIIPS
Kecamatan Pulau Sebatik merupakan kecamatan yang terpadat dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Kondisi perbatasan inilah yang menjadikan Kecamatan ini rawan dengan aktivitas yang mampu menurunkan semangat kebangsaan dan bahkan menjadi transit bagi perdagangan gelap termasuk perdagangan manusia.
Keterbatasan personil militer yang menjaga wilayah perbatasan, dimanfaatkan oleh para oknum untuk melakukan aksi semaunya untuk kepentingan dirinya.
Penguatan warga perbatasan merupakan upaya mempertahankan melalui jalur kekuatan rakyat Indonesia, dan dipandang lebih efektif dari pada sekedar kekuatan militer.

IV. Strategi untuk Mencapai Kondisi yang Diharapkan
Ada beberapa strategi untuk mencapai kondisi yang diharapkan di atas.
A. Masyarakat Sebatik/Komunitas Dampingan
Beberapa strategi yang dilakukan selama ini untuk mencapai tujuan-tujuan di atas adalah sebagai berikut:
Pertama, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti air misalnya, warga Sebatik membuat sumur-sumur darurat pada musim hujan dengan harapan akan dapat resapan air yang lebih tawar. Selain itu mereka juga telah mempersiapkan air tadah hujan untuk konsumsi kesehariannya. Untuk jangka pendek, perlu diperkenalkan teknologi tepat guna bagi warga Sebatik untuk mendapatkan air bersih tersebut. Seperti proses penguapan air laut, atau penyaringan air sumur.
Kedua, khusus di YIIPS, pengelola pendidikan senantiasa melakukan pengembangan dan upaya peningkatan mutu pendidikan di perbatasan dengan berbagai cara, meskipun perkembangannya berjalan lamban. Program monumental seperti latihan dasar kepemimpinan (LDK) yang mendatangkan narasumber dari luar adalah salah satu bentuknya. Latihan Pelayaran dan lain sebagainya

B. Pihak-Pihak di Luar Komunitas Dampingan
B.1. Tim Pendampingan
Pertama, Tim memfasilitasi pengelola YIIPS untuk mendesainnya agar YIIPS menjadi pendidikan yang berkualitas dan mampu menumbuhkan daya tarik masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya. Selain itu bagaimana agar YIIPS mampu menjadi pusat belajar masyarakat.
Kedua, menjaring kerjasama dengan pemerintah setempat untuk menarik putra-putri TKI agar disekolahkan di YIIPS atau sekolah lain.
Ketiga, membangun kerjasama bilateral dengan pemerintah Malasyia untuk mengembalikan TKI ke Kabupaten Nunukan, yang kemudian difasilitasi untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, yang ditempatkan di PP Ummul Qura
B.2. Pemerintah Kabupaten dan Jajarannya
Pemerintahan Kabupaten (sampai Propinsi) untuk mendukung kegiatan masyarakat perbatasan dalam hal-hal berikut:
1. Menegakkan peraturan tentang ketentuan pencarian hasil biota laut. Hal ini didasari pada kondisi masih banyaknya kapal penangkap ikan dari negeri Jiran yang menggunakan pukat harimau. Ini juga berpengaruh kepada mengecilnya penghasilan dari hasil laut.
2. Membantu dan menyediakan infrastruktur yang berhubungan dengan kebutuhan dasar (basic need) masyarakat Sebatik, seperti pengadaan air bersih, listrik dan pendidikan dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi.
3. Membuat regulasi tentang ketentuan perdagangan khusus masyarakat perbatasan. Keadaan riilnya bahwa masyarakat perbatasan merasa lebih asyik bertransaksi dengan warga negara ”sebelah.”
4. Untuk memenuhi visi YIIPS dan lembaga pendidikan di sekitarnya sebagai Pusat Belajar Putra-Putri TKI, pemerintah kabupaten diharapkan bisa menyediakan infrastrukturnya berupa bangunan asrama pendidikan bagi siswa setelah adanya kesiapan YIIPS dan Ummul Qura mengelolanya.
5. Memperbaiki sarana pendukung transportasi, antara lain Jalan raya, penyediaan kendaraan antar kota, dan sejenisnya.

V. Langkah-Langkah untuk Menjalankan Strategi
Untuk mencapai hal-hal di atas, langkah-langkah strategis yang ditempuh adalah sebagai berikut:
Pertama, Pengenalan teknologi tepat guna bagi masyarakat Sebatik, khususnya pula komunitas YIIPS. YIIPS perlu mempelopori program seperti ini. Dengan kata lain penguatan YIIPS mencakup berbagai bidang tidak hanya terbatas untuk pendidikan, tapi juga bagaimana memerankan YIIPS lebih berdaya guna bagi masyarakat di sekitarnya. Untuk itu program penguatan SDM pengelola Yayasan, penguatan jaringan dan penguatan sistem pendidikan pada lembaga pendidikan yang diaunginya bisa menjadi prioritas. Selain itu, perlu juga didukung oleh masyarakat yang kuat di sekitarnya. Penguatan YIIPS ini tetap melibatkan partisipasi masyarakat sebagai user dari YIIPS.
Kedua, mempersiapkan YIIPS sebagai pusat belajar bagi putra-putri TKI. Persiapan ini meliputi kesiapan sistem YIIPS, kesiapan SDM dan prasarana YIIPS. Dengan demikian peluang para putra-putri TKI yang ada di perbatasan untuk mendapatkan pendidikan yang sewajarnya bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Ketiga. mengolah lahan pemberian pemda Nunukan lebih dari 100 Ha untuk budidaya kelapa sawit, sehingga mampu menarik TKI untuk mencari pekerjaan di lahan sendiri. Untuk hal ini, tim fasilitator akan menjalin kerjasama dengan P.P. Ummul Qura Nunukan.
VI. Pihak-pihak yang Terlibat
Komponen pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari tiga komponen inti, yakni:
Pertama, Ditdikti Islam (DEPAG RI), yang bertanggung jawab dalam penyediaan bantuan dana pelaksanaan kegiatan dan mempunyai kewenangan penuh untuk mengevaluasi, mengontrol, dan memonitor pelaksanaan kegiatan ini.
Kedua, P3M STAIN Samarinda, yang bertugas untuk menjalankan keseluruhan program beserta paket-paketnya sesuai dengan yang direncanakan. P3M hanya sebagai fasilitator dalam pelaksanaan kegiatan ini. P3M akan memfasilitasi semua bentuk kegiatan yang diperlukan pihak YIIPS dampingan.
Ketiga, Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Kalimantan Timur. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keberadaan pendidikan agama dan keagamaan di wilayah provinsi ini, Kanwil menjalin kerjasama dengan P3M STAIN Samarinda untuk merumuskan program kegiatan penguatan masyarakat perbatasan.
Selain itu, kepentingan untuk melibatkan pihak luar (outsourcing) sangatlah urgen. Dengan kata lain, outsourcing merupakan mitra di luar lembaga (P3M dan MA Dampingan). Outsourcing ini akan sangat membantu dalam menyediakan tenaga-tenaga ahli di bidangnya masing-masing. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan terlibat sebagai bagian dari pelaku penelitian ini. Bahkan, program ini diarahkan untuk menarik mereka untuk terlibat dalam berbagai tahapan program dampingan. Di antara outsourcing tersebut adalah:
a. Universitas Mulawarman Kalimantan TImur, adalah satu-satunya perguruan tinggi negeri di Kalimantan Timur yang berkedudukan di Samarinda. UNMUL ini mempunyai tenaga-tenaga ahli yang bisa untuk dilibatkan dalam proses pelaksanaan program ini
b. Pemerintah Daerah (Pemprov/pemkab). Lembaga eksekutif di tingkat propinsi dan kabupaten ini memiliki kepentingan utama yaitu melindungi kepentingan umum dan mensejahterakan kehidupan masyarakatnya. Instansi ini memiliki sistem, struktur, aparat dan dana. Sumber daya yang diharapkan dari instansi negara ini adalah berupa political will, aparat pengawas, dan bantuan dana. Bentuk keterlibatan dalam program ini adalah diberi informasi, diajak diskusi dalam penyusunan rencana program aksi, serta diajak dalam peningkatan kuantitas dan kualitas aparat pengawas.
c. Biro Sosial adalah biro teknis yang menangani permasalahan-permasalahan sosial. Fenomena prostitusi adalah fenomena sosial yang sering kali disebut dengan penyakit dan sampah masyarakat yang harus dijauhi. Untuk itu penanganannya berada di bawah Biro ini. Keterlibatan biro ini antara lain bisa dalam bentuk pemberian informasi, diskusi dan peningkatan pembinaan selama ini
d. Dinas Kesehatan adalah dinas yang bertanggung jawab menangani permasalahan kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan yang berada di lokasi adalah PUSKESMAS, mengingat rentannya komunitas dampingan.
e. Nahdhatul Ulama (NU) dan Banom PW LP Al-Maarif NU. Organisasi ini merupakan ormas terbesar di Indonesia dengan basisnya masyarakat tradisional. Ormas ini memiliki jaringan lembaga dari pusat hingga desa. NU mencita-citakan adanya suatu tatanan sosial-kemasyarakatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, termasuk per-soalan sosial. NU memiliki Ulama dan jaringan anggota yang luas. Program ini mengharapkan NU dapat menyediakan tenaga sukarelawan untuk peningkatan kesadaran publik untuk menangani berbagai permasalahan sosial terutama partisipasi dalam menghambat trafficking. Dalam program ini, NU akan diberi informasi, diajak diskusi dalam perencanaan dan peningkatan kesadaran publik terhadap bahaya pencemaran.
Selain itu, NU mempunyai organisasi otonom yang bergerak di bidang peningkatan mutu pendidikan, yang lebih dikenal dengan nama LP Maarif. LP Al-Maarif inilah yang akan membantu secara intensif, terutama dalam penguatan jaringan.
Komunitas Dampingan (MA YIIPS), yang dikonstruk agar terlibat secara penuh dalam proses penelitian itu sendiri dan sekaligus sebagai pelaku program. Perubahan struktur sosial dan kemasyarakatan di YIIPS ini sepenuhnya tergantung pada komunitas ini dan seberapa jauh kemauan mereka.

VII. Resources yang Sudah Dimiliki
A. Resources Tim Peneliti
Sebagai fasilitator, Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) STAIN Samarinda sudah sejak lama menyelenggarakan program pemberdayaan baik yang berhubungan dengan pemberdayaan komunitas, lembaga pendidikan seperti pesantren dan madrasah, masjid maupun internal kelembagaan STAIN Samarinda sendiri.
P3M STAIN Samarinda memiliki tenaga peneliti yang dapat diandalkan. Mereka telah dilatih dalam berbagai bidang sesuai dengan kapasitas dan bidang konsentrasi yang digeluti oleh masing-masing peneliti. Pelatihan itu tidak saja mencakup epistemologi, paradigma dan metodologi, tetapi juga teknik dan keterampilan praktis penelitian dan pemberdayaan masyarakat, termasuk di dalamnya pelatihan Participatory Action Research (PAR).
Selain itu, P3M STAIN Samarinda juga memiliki sistem, struktur dan mekenisme kerja yang jelas yang dapat dijadikan dasar dan prinsip kerja bagi para stafnya.
Untuk menunjang pekerjaann, P3M STAIN Samarinda pun memiliki kantor permanen, perlengkapan telekomunikasi dan sarana penunjang lainnya, seperti gedung pertemuan, dan kendaraan.
Mengingat P3M STAIN Samarinda selama ini lebih banyak memfokuskan programnya pada pemberdayaan di bidang pendidikan dan bidang sosial-keagamaan, maka beberapa sumber daya yang telah disiapkan adalah sebagai berikut:
1. Tenaga trampil dalam memfasilitasi program pendampingan ini.
2. Tenaga yang memahami karakter komunitas dampingan
Kerjasama dengan pihak Kantor Departemen Agama Provinsi Kalimantan Timur makin memperkuat Tim Pendamping. Kekuatan Sumber Daya Manusia makin kokoh dan sangat mendukung proses penguatan masyarakat ke depan.

B. Resources Komunitas Dampingan
Masyarakat dampingan telah mempunyai kekuatan yang sangat mendukung untuk percepatan penguatan komunitas, antara lain:
1. Para pelaku dan pengelola Yayasan mempunyai tingkat perjuangan dan keikhlasan yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan proses pendiran Yayasan yang semenjak tahun 1985 hingga kini mengalami perkembangan cukup signifikan dan kemauan untuk terus berinovasi masih kuat melekat.
Khusus untuk di PP Ummul Qura sendiri telah jauh lebih maju pengelolaannya, terutama sekali di bidang pengembangan ekonominya yang berpangku pada budidaya tembakau. Pengelola telah memperhitungkan keuntungan yang cukup tinggi, karena mereka telah menjalin kerjasama dengan pengusaha di Malaysia.
2. Masyarakat Sebatik khususnya mempunyai tingkat perhatian yang tinggi terhadap penyelenggaraan pendidikan agama. Hal ini dibuktikan pada proses pendirian YIIPS, bahwa masyarakat di sekitarnya rela menyumbangkan baik yang bersifat materiil maupun moril untuk keberadaan lembaga pendidikan agama tersebut.
Bukti lainnya adalah bahwa masyarakat telah merelakan tanahnya untuk dikelola YIIPS. Pemberiann pertama seluas 4 Ha, dan ditambah lagi di tahun 2007 ini sebanyak 4 HA lagi.
3. Sumber pendanaan dari hasil perkebunan, pertanian dan perikanan cukup menjanjikan jika dikelola secara maksimal. Mulai dari pengelolaan bagan, perkebunan coklat dan kelapa sawit, tanaman tembakau dan lain sebagainya. Apalagi jika mampu membangun jaringan ke negeri tetangga karena kedekatan geografisnya.
4. Dukungan pemerintah Kabupaten Nunukan cukup besar. Pemerintah Kabupaten Nunuka telah memberikan tanah hampir 400 Ha untuk dikelola oleh pihak Yayasan Pesantren Ummul Qura dan masyarakat sekitar. Selain itu, Pemerintah juga memberikan modal awal untuk pengembangan pesantren tersebut.

PERJUANGAN NELAYAN SEBATIK


Field Note 7 – 8 Juli 2007

Pukul 15.45 Wita, tim akan berangkat melaut. Perjalanan darat ditempuh selama 25 menit dari Sei Nyamuk—dimana tim bertempat tinggal—untuk mencapai dermaga di Sei Taiwan tempat salah satu nelayan Sebatik menjadikan pangkalannya. Perlu diketahui bahwa 60% penduduk sebatik ini berprofesi sebagai nelayan. Ada beberapa jenis nelayan di dalamnya; nelayan bagan, nelayan konvensional, dan pekerja dari para pemilik modal.
Nelayan konvensional adalah para nelayan yang pekerjaannya mencari ikan dengan cara memancing atau menebar jaring di tengah laut. Mereka memancing dengan serba keterbatasannya. Ratusan mata kail di sebar di sekitar kapal kecilnya. Siapa tahu ada ikan yang mampir ke mata kailnya. Hal itu di lakukannya hingga pagi dini hari.
Ada juga yang menjadi nelayan, bekerja pada pemilik modal. Merena menjalankan kapal kecilnya, modalnya, dan bahkan semua yang dilakukannya untuk pemilik modal. Mereka hanya mendapatkan gaji atau keuntungan bagi hasil dari hasil usahanya.
Sedangkan petani bagan, akan dijelaskan kemudian.
Sejenak, sebelum berangkat melaut tim berbincang-bincang dengan warga sekitar tentang pengalaman melaut. Bahwa hari ini akan turun dengan harapan “air mati”—sebuah istilah untuk menyebut keadaan laut tenang. Karena keadaan demikian ikan teri akan mendatanginya berbondong-bondong.
Sore itu, “speed”—sama dengan ketinting—terpaksa didorong karena air laut surut. Biasanya mereka baru melaut menunggu keadaan air laut pasang. Tim fasilitator menaiki satu speed menuju “bagan,” yakni sebuah tempat singgah bagi nelayan-nelayan yang ber”duit” untuk mencari mata pencahariannya.
Bagan dibangun dari kontruksi pepohonan pantai—sejenis pohon galam—yang biasanya mempunyai ketinggian 15 s.d. 25 m. Batang-batang pohon tersebut ditancapkan hingga mencapai dasar laut. Sebelum itu, seorang nelayan telah merakit lantai bagan di pantai. Rakitan tersebut kemudian diseret dengan kapal/speed ke tempat yang direncanakan untuk dibangun bagan.
Selanjutnya, batang-batang pohon yang telah ditancapkan tersebut di rakit sedemikian rupa di bagian permukaannya, lalu diikatkan dengan rakitan lantai bagan yang dibawa dari tepi pantau. Jarak ketinggian lantai bagan dengan permukaan laut berkisar antara 3 s.d. 5 m. Di tengah-tengah bagan dibangun sebuah pondokan kecil untuk tempat berteduh dari derasnya hujan dan kencangnya angin laut.
Sore ini, tim sampai di bagan sekitar pukul 18.00, lalu nelayan dan pekerjanya menurunkan jaring pukatnya untuk menangkap ikan teri dari laut. Di bawah pondokan dipasang lampu dengan penerangan tujuh buah lampu. Untuk apa? “Untuk menarik ikan teri agar datang,” katanya demikian.
Sementara, Umar—nelayan yang mengantarkan kami kebagan menghidupkan kapalnya untuk menuju tengah laut memancing ikan untuk menghidupi keluarganya.
Angin bertiup semilir ke arah daratan. Lalu laut tiba-tiba terasa tenang. Indahnya lautan di situlah terasa keagungan Allah Swt. Tapi, 15 menit kemudian, tiba-tiba angin bertiup kencang dari arah daratan. Maka, buru-buru kepala nelayan memerintahkan untuk masuk ke pondokan. Memang, angin terasa menusuk punggung. Kebetulan menjelang malam. Tiang-tiang bagan dihempas ombak, dinding-dinding pondokan terasa bergetar seolah hendak terangkat. Apalagi ketika hujan menyertainya. Lampu-lampu di luar pondok terpaksa harus dimatikan, khawatir terjadi konsleting. Lampu sorot bawah bagan yang dimaksudkan untuk memanggil ikan di malam hari bergoyang tertiup angin dan tersentuh deru ombak. Kepala nelayan terpaksa harus menaikkan lampu sorotnya.
Sejenak kami teringat berita sore yang diliput Televisi Swasta Indonesia, bahwa para nelayan di Malang Jawa Timur tidak pada turun mencari ikan, karena tingginya gelombang. “Wah jangan-jangan, gelombang akan muncul bersamaan angin ini,” batin kami.

Hujan deras menembus atap dan dinding pondokan bagan. Tim yang merasa ngantuk terpaksa tidur di atas kencangnya tiupan angin dan derasnya tetesan hujan dalam bagan. Kami membayangkan, bagaimana si Umar yang menuju ke tengah lautan mengatasi cuaca sedemikian mengerikannya. Yah… kami berbincang-bincang se maunya melupakan sejenak rasa kekhawatiran dari cuaca yang mendadak berubah tersbut. Perut terasa lapar, apa boleh buat.. rencana hendak makan ikan di atas bagan kandas, karena ikan tiada didapat. Kami makan nasi bersama sayur kangkung agar perut tidak terserang penyakit. Hujan beserta angin masih terasa kencang. “Biasanya berapa lama keadaan seperti ini?” tanya saya penuh kekhawatiran. “Jika beserta hujan seperti ini biasanya hanya 3 jam,” tuturnya menjelaskan. “Tiga jam?” batin saya. “Wah lama sekali,” namun kami tidak mengeluarkannya. Jikalau bagi nelayan, tiga jam tersebut hanya sebentar.
Pembicaraan mengenai perjuangan pendidikan dan Politik di Pulau Sebatik ini cukup membuat kami lupa suasana di luar. Tibalah rasa kantuk datang.
Apa boleh buat, jikalau mata sudah merasa ngantuk. Tidurlah tim dengan keadaan serba dingin. Beberapa kali kami terbangun untuk melihat apa yang telah dilakukan para nelayan ‘bagan’ ini. Sungguh luar biasa. Mereka masih terjaga, menjaga pukatnya dan bagannya. Sambil memancing di laut lepas, mereka menunggu keadaan air tenang mengharap ikan teri masuk jaringnya. Saat itu mereka menarik jaringnya ke atas, namun sayang, tidak banyak ikan teri yang didapat. Ada cumi kecil, ikan putih, dan lain sebagainya. Yah… jikalau ditimbang paling hanya 2 kg totalnya. Mereka tidak putus asa. Jaring diturunkan kembali, untuk mengambil rezeki yang disediakan Allah di lautan lepas. Sesekali, kami terbangun untuk membetulkan posisi tidurnya samnbil mencari apa yang bisa dijadikan bantal untuk tidur. Kepala terasa agak pening, karena di serang angin sana-sini. “Wah.. kayaknya masuk angin nih,”
Sambil menunggu ikan-ikan masuk ke pukatnya, si nelayan melempar pancing ke tengah laut. “Dapat ikan..,!” teriaknya. Tampak ada raut kegembiraan mendapatkan ikan cukup besar. Ikan Arud namanya. Hal itu dilakukannya beberapa kali. Saya lihat ada ena, ekor di kotaknya. Saya tidur lagi, karena hari masih tengah malam. Pukul 05.15 saya terbangun. Keadaan cuaca begitu terang. Para nelayan bagan sedang menarik pukatnya dan mengambil ikan terinya. Tampak ada ubur-ubur masuk jaring. Tapi ubur-ubur tersebut dibuang, “kenapa?” tanyaku. “Dagingnya gatal,” jawab Johan, salah satu pegawainya. Bersamaan dengan itu pula, Ketua nelayan berteriak, “dapat ikan..!” Rupanya dia dapat ikan lagi. Dan cukup besar, sekitar 5 kg. “Dapat ikan surga!” teriak gembira Sholeh, anak seusia kelas 4. Dia menyebut ikan merah dengan ikan Surga. Saya kurang tahu mengapa disebut demikian. Dugaan sementara, karena harga ikan merah cukup mahal, dan dagingnya terasa enak.
Sementara itu, para nelayan beserta pekerjanya mengolah ikan teri yang di dapatnya, memilahnya dan mempersiapkannya untuk dimatangkan, agar tidak bau amis. Yah… itulah yang dilakukan para petani ikan yang mempunyai ‘bagan.’
Biasanya mereka bisa memetik hasilnya setiap setengah bulannya mencapai 2,5 s.d. 5 juta atau sekitar 1000 s.d. 2500 Ringgit malaisyia. Mereka menjual ikan-ikannya ke para toke’ atau juragan-juragan cina Malaisyia. Mengapa ke sana? “Karena mereka membelinya dengan harga tinggi,” tutur sang nelayan.