A. RINGKASAN PROGRAM
Pelaksana Program : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAIN Samarinda dan Kanwil Depag Prop. Kalimantan Timur
Alamat : Jl. KH Abul Hasan No. 03 Samarinda Kalimantan Timur Phone: 0541-742193, 0541-732717 email: p3m_stainsmd@yahoo.com
Nama Program : Pendampingan Madrasah YIIPS sebagai Pusat Belajar bagi Putra-Putri Tenaga Kerja Indonesia
Lokasi Program : Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur
Fokus Capaian Program : 1. Putra-putri TKI dapat mengenyam pendidikan yang layak
2. Timbulnya kesadaran pentingnya pendidikan bagi putra-putri TKI
3. Madrasah YIIPS Terpadu
Ketua Tim: Anis Masykhur, MA
HP: 0816.483.5381 / 0852.503.526.59
B. INFORMASI UMUM
B.1. Konteks ProgramPosisi Kabupaten Nunukan yang terletak di sebelah Utara yang merupakan perbatasan Indonesia Malaysia merupakan posisi yang strategis dalam peta lalu lintas antar negara. Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia, Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Sulawesi, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bulungan dan Malinau, sedang di Sebalah Barat berbatasan dengan Serawak, Malaysia Timur.
Kabupaten Nunukan ini merupakan Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bulungan pada tahun 1999. Sebagai sebuah wilayah perbatasan, maka Nunukan juga banyak menjadi perhatian. Kasus perseteruan batas wilayah Ambalat, juga menyinggung batas wilayah—termasuk—Nunukan. Karena ambalat berada di sebelah timur dari Nunukan.
Wilayah perbatasan adalah kawasan strategis karena letaknya yang langsung berhadapan dengan wilayah lainnya. Apalagi jika wilayah tersebut mempunyai potensi cukup besar, baik bidang SDA-nya maupun SDM-nya. Namun sayangnya, potensi wilayah perbatasan yang sangat besar tersebut belum banyak dimanfaatkan secara optimal, sehingga wilayah tersebut tergolong dalam kawasan tertinggal, terisolir dan belum berkembang.
Termasuk pula di bidang pendidikan, bahwa wilayah perbatasan sebagaimana halnya di daerah-daerah lain, tingkat pendidikan masyarakat relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Persebaran sarana dan prasarana pendidikan yang tidak dapat menjangkau desa-desa yang letaknya tersebar dengan jarak yang berjauhan, mengakibatkan pelayanan pendidikan di wilayah perbatasan tertinggal dibanding daerah lain.
Disamping sarana pendidikan yang sangat terbatas, minat penduduk terhadap pendidikan pun masih relatif rendah. Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya penduduk daerah perbatasan yang meninggalkan desa untuk bersekolah namun tidak menamatkan sekolahnya. Seringkali sekolah-sekolah di wilayah perbatasan terpaksa tutup karena murid-muridnya meninggalkan sekolah untuk memanen hasil pertanian mereka.
Sebagai akibat rendahnya tingkat pendidikan dan mudahnya akses informasi yang diterima negara tetangga melalui siaran radio, televisi, dan interaksi langsung dengan penduduk di negara tetangga maka orientasi kehidupan sehari-hari penduduk di perbatasan lebih mengacu kepada Serawak-Malaysia dibanding kepada Indonesia. Kondisi ini tentunya sangat tidak baik terhadap rasa persatuan, kebangsaan dan potensial memunculkan aspirasi disintegrasi.
Selain itu, wilayah perbatasan sangat rawan menjadi transit perdagangan gelap, termasuk perdagangan manusia terselubung. Dari hasil beberapa penelitian dan analisa para pakar disebutkan bahwa faktor-faktor yang mendorong terjadinya perdagangan manusia ini sangat beragam. Beberapa diantaranya adalah kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, konflik sosial, peperangan, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya kesempatan kerja, lemahnya penerapan hukum, serta pengaruh gaya hidup yang hedonistic.
Terbatasnya fasilitas umum dan infrastruktur serta kesempatan kerja yang tersedia di wilayah perbatasan mendorong penduduk untuk menyebrang ke Malaysia untuk bekerja di sektor perkebunan yang tidak membutuhkan ketrampilan tinggi sehingga berpotensi memunculkan praktek perdagangan manusia.
Program pendampingan dan pemberdayaan madrasah yang berorientasi peningkatan mutu pendidikan bagi warga perbatasan menjadi menarik untuk dilakukan sebagai implementasi untuk mempertahankan nilai-nilai kebangsaan Indonesia dan mengurangi aktivitas itu.
Yayasan Islam Indonesia Pulau Sebatik yang kemudian sering dikenal dengan YIIPS telah memulai untuk itu. Dengan penyelenggaraan pendidikan mulai dari jenjang Raudhatul Athfal (RA) s.d. Madrasah Aliyah (MA), mereka berusaha meningkatkan SDM warga perbatasan. Untuk itulah, pendampingan diarahkan ke yayasan ini.
C. DISKRIPSI PROGRAM
I. Kondisi Dampingan Saat Ini
YIIPS menyelenggarakan pendidikan di semua jenjang, dari RA hingga jenjang Madrasah Aliyah. Jumlah siswa MTs sebanyak 221 siswa, Siwa MA sebanyak 200-an. YIIPS yang berada di Kecamatan Pulau Sebatik merupakan daerah terpadat dibanding daerah lain.
Sedangkan Madrasah lain yang berada di Kabupaten Nunukan Daerah yang menjadi pilihan program ini adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Khairat Nunukan, Madrasah Tsanawiyah (MTs) YIIPS Nunukan, Ibtidaiyah (MI) Al-Khairat Nunukan, Madrasah Aliyah (MA) YIIPS Nunukan, Madraasah Ibtidaiyah (MI) H. Beddurahim, Madrasah Ibtidaiyah (MI) As-Adiyah Nunukan, Dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Iman Nunukan. Madrasah tersebut mempunyai potensi untuk berkembang dan dapat memerankan lebih optimal sebagai wilayah perbatasan.
Dibanding yang lain, YIIPS relatif lebih sering menerima bantuan fisik, karena kualitas SDM yang siap mencari akses ke luar wilayah Nunukan.
MA YIIPS saat ini hanya menjadi tempat belajar bagi putra warga sekitar, sehingga jumlah siswanyapun tidak begitu banyak hanya berkisar 140 anak (rata-rata 35 siswa).
Sejarah YIIPS
Bagaimana sih awal inisiatif berdirinya YIIPS ini? Apa yang melatarbelakanginya?
Para pendidi YIIP merasa bahwa pulau Sebatik ini akan menjadi Kota Besar di masa depan. Sementara lembaga pendidikan yang ada, terutama pendidikan agama sangat terbatas. Untuk itu perlu didirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Lalu mengapa yayasannya diberi nama Yayasan Islam Indonesia Pulau Sebatik?
“Saya dan Mas Daud awalnya berdebat untuk memberi nama As’adiyah atau Al-Khairat. Tapi jika menggunakan nama almamater, rasanya masyarakat akan kurang merasa memiliki. Makanya kami beri nama Pulau Sebatik ini,” jawab Suniman, salah satu pendiri YIIPS.
Pada tahun 1989 dibukalah MTs dengan murid hanya 7 orang, dengan pengajarnya yang berganti-ganti. Suniman dan Mas Daud yang merupakan inisiator Yayasan secara menyeluruh menjadi guru andalan di yayasan ini. Kebetulan saat itu, dia belum beristri, sehingga relatif agak bebas. Menurut penuturan masyarakat, bahwa setiap orang yang mengabdi mangajar di Sebatik ini tidak akan bertahan lama, maksimal 3 bulan. Hal demikian terjadi karena permasalahan gaji yang minim. Bahkan ketika para pendirinya sampai di Sebatik ini, dia juga diduga masyarakat seperti itu pula. Tampaknya masyarakat juga memahami bahwa “kaburnya” para guru agama di Sebatik ini karena tiadanya gaji. Maka masyarakat juga berinisiatif untuk memberikan bayaran kepada guru baru tersebut sebesar Rp. 50.000,- setiap bulannya. Uang itu dikumpulkan dari masyarakat.
Pada tahun 1996, MA baru didirikan. Perkembangan di tahun pertama hanya 1 orang saja. lalu sampai di akhir tahun sampai 7 orang. Sekarang murid YIIPS menjadi ratusan. Untuk Siswa MTs-nya sebanyak 230-an, sedangkan siswa MA-nya sebanyak 140 anak, dan yang Drop out hanya 2 anak.
Konteks Masyarakat Sebatik dan Masyarakat Perbatasan
1. Kehidupan Nelayan dan Petani
Masyarakat Sebatik sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Mereka mencukupi kehidupannya dari mata pencaharian tersebut. Hasil tangkapan ikan kadang di jual di masyarakat lokal, tapi tidak jarang pula harus dijual ke tawau, karena di sana harganya lebih mahal.
Sementara itu, beras yang dihasilkan petani juga tidak banyak. Akhirnya, beras harus didatangkan dari luar Sebatik, bahkan termasuk dari negara “Sebelah.” Khusus dari Malaysia, beras dan juga barang-barang dagangan lain datang dengan diselundupkan, tentunya di malam hari.
Masyarakat Kabupaten Nunukan secara keseluruhan yang bermata pencaharian ini di atas 50%, tepatnya 54,75%. Sedangkan kehidupan pertanian di era kini dipersepsikan identik dengan kemiskinan.
2. Perekonomian dan Perdagangan
Kehidupan perekonomian masyarakat disangga dari pertanian, nelayan dan perkebunan. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, masyarakat yang berkecimpung di Perdagangan adalah 18,01%.
Ada beberapa karakteristik yang menggambarkan masyarakat Sebatik ini mempunyai kehidupan yang berbeda dengan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya. Misalkan dalam transaksi sehari-hari mereka menggunakan mata uang ringgit. Belanja kehidupan sehari-hari lebih dekat ke wilayah Tawau. Cost yang dikeluarkan untuk ke
3. Perikanan
Lain Pertanian lain pula Perikanan. Kehidupan masyarakat Nelayan yang berada di pesisir pantai cukup memprihatinkan. Jarak tempuh ke ibu kota Kabupaten yang cukup jauh menyebabkan para nelayan menjual hasil tangkapannya ke Tawau, sebuah daerah wilayah malaysia di perbatasan. Kota Tawau adalah kota yang diproyeksikan untuk kota perdagangan. Disamping jarak tempuhnya lebih dekat, harga belinya lebih tinggi dibanding harga di Indonesia.
Pasca tragedi Ambalat, yakni peristiwa perebutan ambang batas wilayah teritorial, yang di dalamnya diprediksikan mengandung minyak bumi yang melimpah, pemerintah kabupaten membuat kebijakan memfasilitasi para petani untuk mengelola rumah tangkap ikan di tengah laut, yang orang menyebutnya dengan istilah ”bagan.” Dengan kata lain, bagan itu adalah "bagan politik."
Bagan dibangun dari kontruksi pepohonan pantai—sejenis pohon galam—yang biasanya mempunyai ketinggian 15 s.d. 25 m. Batang-batang pohon tersebut ditancapkan hingga mencapai dasar laut. Sebelum itu, seorang nelayan telah merakit lantai bagan di pantai. Rakitan tersebut kemudian diseret dengan kapal/speed ke tempat yang direncanakan untuk dibangun bagan.
Selanjutnya, batang-batang pohon yang telah ditancapkan tersebut di rakit sedemikian rupa di bagian permukaannya, lalu diikatkan dengan rakitan lantai bagan yang dibawa dari tepi pantau. Jarak ketinggian lantai bagan dengan permukaan laut berkisar antara 3 s.d. 5 m. Di tengah-tengah bagan dibangun sebuah pondokan kecil untuk tempat berteduh dari derasnya hujan dan kencangnya angin laut.
Dari hasil bagan tersebut penghasilan rata-rata nelayan adalah Rp. 2.000.000,- per minggunya. Bahkan ada yang lebih tinggi, yakni Rp. 5.000.000,-.
Namun keberuntungan memang tidak dimiliki setiap orang. Ada juga, karena konstruksi bagan tidak kokoh, bagan bisa roboh tersapu ombak laut. Ada juga yang terpaksa dijual kembali kepada nelayan yang kaya lagi tangguh. "Hasil bagan itu tidak terlalu menjanjikan," kata Musmulyadi di tengah proses pengorganisasian gagasan pengembangan ekonomi YIIPS.
4. Pendidikan
Lembaga pendidikan di Pulau Sebatik ini sudah cukup memadai. Pembukaan unit sekolah baru mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah sudah agak memadai. Hanya saja, ada problem jarak, sementara ketersediaan fasilitas dan sarana transportasi sangat terbatas.
Apalagi ketika hendak melanjutkan ke Jenjang Perguruan Tinggi. Masyarakat Sebatik harus mengeluarkan biaya ekstra, karena belum tersedia perguruan tinggi di wilayah tersebut. Baru di akhir tahun 2007, ada perguruan tinggi Islam (STAI) Ibnu Khaldun. Animo masyarakat juga cukup besar, perguruan tersebut menerima jumlam siswa lebih dari 200 mahasiswa tahun ini. Kalaupun ke luar Sebatik, mereka lebih suka ke Palu, atau Universitas Borneo di Tarakan.
Peluang Menjaring Putra-Putri TKI
Berdasarkan data pihak konsulat, ada sekitar 36.000 anak TKI yang berada di sekitar Tawau dan Kinabalu. Sebagian besar dari mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak, karena ada kendala Surat Keterangan Kependudukan orang tuanya yang bermasalah. Antara lain karena orang tuanya adalah tenaga kerja ilegal.
Untuk itu ada beberapa kekhawatiran, di antaranya adalah jika anak mereka telah keluar dari wilayah Malasyia (misalkan untuk belajar di Pulau Sebatik), kemungkinan besar mereka tidak akan bisa kembali ke Malasyia bersama-sama orang tuanya. Karena perizinannya tidak mereka punyai.
Sementara itu di YIIPS sedang berupaya mempersiapkan ke arah itu. Penempatan para santri yang berasal dari luar Pulau Sebatik atau jauh jangkauannya akan dimulai dimukimkan di rumah penduduk. Langkah yang perlu dilakukan dengan segera adalah koordinasi bersama-sama dengan masyarakat setempat.
YIIPS saat ini sedang mempersiapkan bangunan asrama yang dibantu Departemen Agama.
Sementara untuk mengetahui tingkat antusiasme masyarakat terhadap pendidikan agama, mulai semester ini akan dimulai pendidikan ala pesantren, meskipun tidak menginap.
Ancaman Kebudayaan
Roda kehidupan perekonomian masyarakat perbatasan yang tergantung dengan negara "sebelah" cukup mengancam eksistensi masyarakat Sebatik sebagai bagian dari warga kebangsaan Indonesia.
Dari paparan di atas, bahwa kegiatan-kegiatan perekonomian yang dilakukan melalui jalur "penyelundupan" seolah dilegalkan. Apalagi pemerintah kurang begitu mengindahkan persoalan riil ini.
Apalagi perputaran mata uang juga menggunakan mata uang negara "sebelah" sedangkan rupiah lumayan sulit untuk dicari. Pasca keberadaan BRI mempunyai pengaruh terhadap perputaran uang ini. Rupiah mulai tampak terlihat di pasaran.
Pasca peristiwa deportasi TKI dari Malaysia tahun 2004-2005 dan peristiwa Ambalat di pertengahan 2005 telah membawa berkah bagi masyarakat perbatasan terutama masyarakat Sebatik. Perhatian Pemerintah makin meningkat terhadap perbaikan infrastruktur, seperti Rumah Sakit, Kantor Pelayanan Keamanan Masyarakat (Polisi dan Kodim), dan lain sebagainya. Hampir setiap departemen memberikan alokasi program dan kegiatannya untuk daerah perbatasan. Mulai dari pembangunan jalan protokol, hingga ke pada perbaikan-perbaikan penambahan energi dan jaringan air PAM.
Ke manakan hasil-hasil tangkapan nelayan dan hasil pertanian dijual? “Ke Malasyia?” Jawab warga setempat. Mengapa? “Karena harga jualnya lebih tinggi dibanding ke warga Indonesia,” komentar beberapa orang. Memamg sempat kami berpapasan di tengah laut dengan beberapa nelayan yang membawa hasil tangkapannya untuk dijual di Tawau, negeri “Sebelah.” Begitulah mereka menyebut Tawau, Malasyia. Terlalu keren untuk menyebut luar negeri. Begitu juga dengan hasil perkebunan coklat, kelapa sawit, atau hasil perkebunan lainnya. Para petani yang membudidayakan tanaman tersebut dengan jumlah yang terbatas akan menjualnya ke pedagang Malaysia. Jaraknya lebih dekat dan biaya lebih murah. Sedangkan harganya di atas standar Indonesia.
Kehidupan nelayan dan petani memang demikian adanya. Semangat perjuangan mereka gigih, namun giliran pemasarannya mereka jelas merasa kesulitan untuk ke Kota. Alternatif mempertahankan kehidupan perekonomiannya yah dengan menjual ke negara tetangga meskipun tanpa disertai ijin ekspor. Secara hukum mereka bisa disebut melakukan ‘penyelundupan.’ Dan memang, polisi laut juga sudah sama-sama tahu. Baik polisi Indonesia maupun polisi Malaysia.
Bayangkan jarak tempuh ke Nunukan mencapai 2 – 2,5 jam dengan menelan biaya 100 ribu (via laut) dan 200 ribu (via darat). Apalagi ke tarakan, bisa mencapai 2,5 – 4 jam dengan biaya 150 ribu (via laut). Sedangkan ke Tawau, hanya 15 menit dengan biaya kira-kira 15 ribu (5 ringgit). Jelas masyarakat akan memilih jarak tempuh yang lebih dekat dan menguntungkan.
Akar kebudayaan dan tradisi Masyarakat Sebatik terancam tergerus oleh tradisi negara tetangga. Bisa-bisa semangat kebangsaan Indonesia perlahan-lahan terkikis karena kepentingan ekonomi dan upaya mempertahankan kehidupannya.
II. Kondisi Yang Diharapkan
a. Cita-Cita Program
Melalui program ini, di lingkungan masyarakat Sebatik pada umumnya dan YIIPS khususnya pada lima tahun ke depan mampu menjadi pusat belajar bagi putra-putri TKI khususnya. Disebutkan oleh Konsulat Indonesia di wilayah Sabah bahwa putra-putri TKI yang tersebar di Malaysia mencapai 36.000 anak yang sebagian besar tidak terjamin pendidikannya. Anak-anak tersebut hanya membantu para orang tuanya, dan itupun tidak produktif, karena mereka hanya bisa membantu di saat-saat musim panen.
Untuk itu, dalam jangka waktu panjang, program ini juga diharapkan bisa menarik para TKI tersebut untuk kembali ke Tanah Air dengan mencarikan pengganti lahan pekerjaan yang akan di tempatkan di Kabupaten Nunukan atau Malinau, dengan menjaring Kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat.
Untuk hal ini, pemerintah kabupaten Nunukan telah memberikan lahan lebih dari 100 Ha kepada Yayasan Ummul Qura yang merupakan cikal bakal berdirinya Pesantren Ummul Qura Nunukan. Pendampingan ini akan melibatkan Yayasan tersebut, karena memiliki visi yang sama.
b. Perubahan yang Diharapkan
Dari pendampingan ini, kondisi yang diharapkan dari YIIPS adalah sebagai berikut:
1. YIIPS menjadi pusat studi masyarakat di wilayah perbatasan, dan bahkan mampu menarik putra-putri Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di negari tetangga, Malaysia. Karena diperkirakan Jumlah Putra-Putri TKI di Malaysia mencapai 36.000 anak yang pendidikannya kurang terjamin oleh sistem yang ada.
2. Meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan di Kecamatan Pulau Sebatik, yang ditandai dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap dunia pendidikan dan tumbuhnya keinginan untuk menyekolahkan putra-putri wagrga masyarakat sekitar.
III. Alasan Memilih YIIPS
Kecamatan Pulau Sebatik merupakan kecamatan yang terpadat dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Kondisi perbatasan inilah yang menjadikan Kecamatan ini rawan dengan aktivitas yang mampu menurunkan semangat kebangsaan dan bahkan menjadi transit bagi perdagangan gelap termasuk perdagangan manusia.
Keterbatasan personil militer yang menjaga wilayah perbatasan, dimanfaatkan oleh para oknum untuk melakukan aksi semaunya untuk kepentingan dirinya.
Penguatan warga perbatasan merupakan upaya mempertahankan melalui jalur kekuatan rakyat Indonesia, dan dipandang lebih efektif dari pada sekedar kekuatan militer.
IV. Strategi untuk Mencapai Kondisi yang Diharapkan
Ada beberapa strategi untuk mencapai kondisi yang diharapkan di atas.
A. Masyarakat Sebatik/Komunitas Dampingan
Beberapa strategi yang dilakukan selama ini untuk mencapai tujuan-tujuan di atas adalah sebagai berikut:
Pertama, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti air misalnya, warga Sebatik membuat sumur-sumur darurat pada musim hujan dengan harapan akan dapat resapan air yang lebih tawar. Selain itu mereka juga telah mempersiapkan air tadah hujan untuk konsumsi kesehariannya. Untuk jangka pendek, perlu diperkenalkan teknologi tepat guna bagi warga Sebatik untuk mendapatkan air bersih tersebut. Seperti proses penguapan air laut, atau penyaringan air sumur.
Kedua, khusus di YIIPS, pengelola pendidikan senantiasa melakukan pengembangan dan upaya peningkatan mutu pendidikan di perbatasan dengan berbagai cara, meskipun perkembangannya berjalan lamban. Program monumental seperti latihan dasar kepemimpinan (LDK) yang mendatangkan narasumber dari luar adalah salah satu bentuknya. Latihan Pelayaran dan lain sebagainya
B. Pihak-Pihak di Luar Komunitas Dampingan
B.1. Tim Pendampingan
Pertama, Tim memfasilitasi pengelola YIIPS untuk mendesainnya agar YIIPS menjadi pendidikan yang berkualitas dan mampu menumbuhkan daya tarik masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya. Selain itu bagaimana agar YIIPS mampu menjadi pusat belajar masyarakat.
Kedua, menjaring kerjasama dengan pemerintah setempat untuk menarik putra-putri TKI agar disekolahkan di YIIPS atau sekolah lain.
Ketiga, membangun kerjasama bilateral dengan pemerintah Malasyia untuk mengembalikan TKI ke Kabupaten Nunukan, yang kemudian difasilitasi untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit, yang ditempatkan di PP Ummul Qura
B.2. Pemerintah Kabupaten dan Jajarannya
Pemerintahan Kabupaten (sampai Propinsi) untuk mendukung kegiatan masyarakat perbatasan dalam hal-hal berikut:
1. Menegakkan peraturan tentang ketentuan pencarian hasil biota laut. Hal ini didasari pada kondisi masih banyaknya kapal penangkap ikan dari negeri Jiran yang menggunakan pukat harimau. Ini juga berpengaruh kepada mengecilnya penghasilan dari hasil laut.
2. Membantu dan menyediakan infrastruktur yang berhubungan dengan kebutuhan dasar (basic need) masyarakat Sebatik, seperti pengadaan air bersih, listrik dan pendidikan dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi.
3. Membuat regulasi tentang ketentuan perdagangan khusus masyarakat perbatasan. Keadaan riilnya bahwa masyarakat perbatasan merasa lebih asyik bertransaksi dengan warga negara ”sebelah.”
4. Untuk memenuhi visi YIIPS dan lembaga pendidikan di sekitarnya sebagai Pusat Belajar Putra-Putri TKI, pemerintah kabupaten diharapkan bisa menyediakan infrastrukturnya berupa bangunan asrama pendidikan bagi siswa setelah adanya kesiapan YIIPS dan Ummul Qura mengelolanya.
5. Memperbaiki sarana pendukung transportasi, antara lain Jalan raya, penyediaan kendaraan antar kota, dan sejenisnya.
V. Langkah-Langkah untuk Menjalankan Strategi
Untuk mencapai hal-hal di atas, langkah-langkah strategis yang ditempuh adalah sebagai berikut:
Pertama, Pengenalan teknologi tepat guna bagi masyarakat Sebatik, khususnya pula komunitas YIIPS. YIIPS perlu mempelopori program seperti ini. Dengan kata lain penguatan YIIPS mencakup berbagai bidang tidak hanya terbatas untuk pendidikan, tapi juga bagaimana memerankan YIIPS lebih berdaya guna bagi masyarakat di sekitarnya. Untuk itu program penguatan SDM pengelola Yayasan, penguatan jaringan dan penguatan sistem pendidikan pada lembaga pendidikan yang diaunginya bisa menjadi prioritas. Selain itu, perlu juga didukung oleh masyarakat yang kuat di sekitarnya. Penguatan YIIPS ini tetap melibatkan partisipasi masyarakat sebagai user dari YIIPS.
Kedua, mempersiapkan YIIPS sebagai pusat belajar bagi putra-putri TKI. Persiapan ini meliputi kesiapan sistem YIIPS, kesiapan SDM dan prasarana YIIPS. Dengan demikian peluang para putra-putri TKI yang ada di perbatasan untuk mendapatkan pendidikan yang sewajarnya bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Ketiga. mengolah lahan pemberian pemda Nunukan lebih dari 100 Ha untuk budidaya kelapa sawit, sehingga mampu menarik TKI untuk mencari pekerjaan di lahan sendiri. Untuk hal ini, tim fasilitator akan menjalin kerjasama dengan P.P. Ummul Qura Nunukan.
VI. Pihak-pihak yang Terlibat
Komponen pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari tiga komponen inti, yakni:
Pertama, Ditdikti Islam (DEPAG RI), yang bertanggung jawab dalam penyediaan bantuan dana pelaksanaan kegiatan dan mempunyai kewenangan penuh untuk mengevaluasi, mengontrol, dan memonitor pelaksanaan kegiatan ini.
Kedua, P3M STAIN Samarinda, yang bertugas untuk menjalankan keseluruhan program beserta paket-paketnya sesuai dengan yang direncanakan. P3M hanya sebagai fasilitator dalam pelaksanaan kegiatan ini. P3M akan memfasilitasi semua bentuk kegiatan yang diperlukan pihak YIIPS dampingan.
Ketiga, Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Kalimantan Timur. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keberadaan pendidikan agama dan keagamaan di wilayah provinsi ini, Kanwil menjalin kerjasama dengan P3M STAIN Samarinda untuk merumuskan program kegiatan penguatan masyarakat perbatasan.
Selain itu, kepentingan untuk melibatkan pihak luar (outsourcing) sangatlah urgen. Dengan kata lain, outsourcing merupakan mitra di luar lembaga (P3M dan MA Dampingan). Outsourcing ini akan sangat membantu dalam menyediakan tenaga-tenaga ahli di bidangnya masing-masing. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan terlibat sebagai bagian dari pelaku penelitian ini. Bahkan, program ini diarahkan untuk menarik mereka untuk terlibat dalam berbagai tahapan program dampingan. Di antara outsourcing tersebut adalah:
a. Universitas Mulawarman Kalimantan TImur, adalah satu-satunya perguruan tinggi negeri di Kalimantan Timur yang berkedudukan di Samarinda. UNMUL ini mempunyai tenaga-tenaga ahli yang bisa untuk dilibatkan dalam proses pelaksanaan program ini
b. Pemerintah Daerah (Pemprov/pemkab). Lembaga eksekutif di tingkat propinsi dan kabupaten ini memiliki kepentingan utama yaitu melindungi kepentingan umum dan mensejahterakan kehidupan masyarakatnya. Instansi ini memiliki sistem, struktur, aparat dan dana. Sumber daya yang diharapkan dari instansi negara ini adalah berupa political will, aparat pengawas, dan bantuan dana. Bentuk keterlibatan dalam program ini adalah diberi informasi, diajak diskusi dalam penyusunan rencana program aksi, serta diajak dalam peningkatan kuantitas dan kualitas aparat pengawas.
c. Biro Sosial adalah biro teknis yang menangani permasalahan-permasalahan sosial. Fenomena prostitusi adalah fenomena sosial yang sering kali disebut dengan penyakit dan sampah masyarakat yang harus dijauhi. Untuk itu penanganannya berada di bawah Biro ini. Keterlibatan biro ini antara lain bisa dalam bentuk pemberian informasi, diskusi dan peningkatan pembinaan selama ini
d. Dinas Kesehatan adalah dinas yang bertanggung jawab menangani permasalahan kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan yang berada di lokasi adalah PUSKESMAS, mengingat rentannya komunitas dampingan.
e. Nahdhatul Ulama (NU) dan Banom PW LP Al-Maarif NU. Organisasi ini merupakan ormas terbesar di Indonesia dengan basisnya masyarakat tradisional. Ormas ini memiliki jaringan lembaga dari pusat hingga desa. NU mencita-citakan adanya suatu tatanan sosial-kemasyarakatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, termasuk per-soalan sosial. NU memiliki Ulama dan jaringan anggota yang luas. Program ini mengharapkan NU dapat menyediakan tenaga sukarelawan untuk peningkatan kesadaran publik untuk menangani berbagai permasalahan sosial terutama partisipasi dalam menghambat trafficking. Dalam program ini, NU akan diberi informasi, diajak diskusi dalam perencanaan dan peningkatan kesadaran publik terhadap bahaya pencemaran.
Selain itu, NU mempunyai organisasi otonom yang bergerak di bidang peningkatan mutu pendidikan, yang lebih dikenal dengan nama LP Maarif. LP Al-Maarif inilah yang akan membantu secara intensif, terutama dalam penguatan jaringan.
Komunitas Dampingan (MA YIIPS), yang dikonstruk agar terlibat secara penuh dalam proses penelitian itu sendiri dan sekaligus sebagai pelaku program. Perubahan struktur sosial dan kemasyarakatan di YIIPS ini sepenuhnya tergantung pada komunitas ini dan seberapa jauh kemauan mereka.
VII. Resources yang Sudah Dimiliki
A. Resources Tim Peneliti
Sebagai fasilitator, Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) STAIN Samarinda sudah sejak lama menyelenggarakan program pemberdayaan baik yang berhubungan dengan pemberdayaan komunitas, lembaga pendidikan seperti pesantren dan madrasah, masjid maupun internal kelembagaan STAIN Samarinda sendiri.
P3M STAIN Samarinda memiliki tenaga peneliti yang dapat diandalkan. Mereka telah dilatih dalam berbagai bidang sesuai dengan kapasitas dan bidang konsentrasi yang digeluti oleh masing-masing peneliti. Pelatihan itu tidak saja mencakup epistemologi, paradigma dan metodologi, tetapi juga teknik dan keterampilan praktis penelitian dan pemberdayaan masyarakat, termasuk di dalamnya pelatihan Participatory Action Research (PAR).
Selain itu, P3M STAIN Samarinda juga memiliki sistem, struktur dan mekenisme kerja yang jelas yang dapat dijadikan dasar dan prinsip kerja bagi para stafnya.
Untuk menunjang pekerjaann, P3M STAIN Samarinda pun memiliki kantor permanen, perlengkapan telekomunikasi dan sarana penunjang lainnya, seperti gedung pertemuan, dan kendaraan.
Mengingat P3M STAIN Samarinda selama ini lebih banyak memfokuskan programnya pada pemberdayaan di bidang pendidikan dan bidang sosial-keagamaan, maka beberapa sumber daya yang telah disiapkan adalah sebagai berikut:
1. Tenaga trampil dalam memfasilitasi program pendampingan ini.
2. Tenaga yang memahami karakter komunitas dampingan
Kerjasama dengan pihak Kantor Departemen Agama Provinsi Kalimantan Timur makin memperkuat Tim Pendamping. Kekuatan Sumber Daya Manusia makin kokoh dan sangat mendukung proses penguatan masyarakat ke depan.
B. Resources Komunitas Dampingan
Masyarakat dampingan telah mempunyai kekuatan yang sangat mendukung untuk percepatan penguatan komunitas, antara lain:
1. Para pelaku dan pengelola Yayasan mempunyai tingkat perjuangan dan keikhlasan yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan proses pendiran Yayasan yang semenjak tahun 1985 hingga kini mengalami perkembangan cukup signifikan dan kemauan untuk terus berinovasi masih kuat melekat.
Khusus untuk di PP Ummul Qura sendiri telah jauh lebih maju pengelolaannya, terutama sekali di bidang pengembangan ekonominya yang berpangku pada budidaya tembakau. Pengelola telah memperhitungkan keuntungan yang cukup tinggi, karena mereka telah menjalin kerjasama dengan pengusaha di Malaysia.
2. Masyarakat Sebatik khususnya mempunyai tingkat perhatian yang tinggi terhadap penyelenggaraan pendidikan agama. Hal ini dibuktikan pada proses pendirian YIIPS, bahwa masyarakat di sekitarnya rela menyumbangkan baik yang bersifat materiil maupun moril untuk keberadaan lembaga pendidikan agama tersebut.
Bukti lainnya adalah bahwa masyarakat telah merelakan tanahnya untuk dikelola YIIPS. Pemberiann pertama seluas 4 Ha, dan ditambah lagi di tahun 2007 ini sebanyak 4 HA lagi.
3. Sumber pendanaan dari hasil perkebunan, pertanian dan perikanan cukup menjanjikan jika dikelola secara maksimal. Mulai dari pengelolaan bagan, perkebunan coklat dan kelapa sawit, tanaman tembakau dan lain sebagainya. Apalagi jika mampu membangun jaringan ke negeri tetangga karena kedekatan geografisnya.
4. Dukungan pemerintah Kabupaten Nunukan cukup besar. Pemerintah Kabupaten Nunuka telah memberikan tanah hampir 400 Ha untuk dikelola oleh pihak Yayasan Pesantren Ummul Qura dan masyarakat sekitar. Selain itu, Pemerintah juga memberikan modal awal untuk pengembangan pesantren tersebut.