Field Note Tanggal 8 Juli 2007
Sore pukul 14.30, setelah badan istirahat pasca melaut, tim berjalan-jalan ke masyarakat. Kebetulan hendak ke Rt. 13, kami berniat ketemua dengan pak arifin. Tapi rupanya beliau tidak ada, sedang jalan-jalan rupanya. Lalu kami duduk di tempat nongkrong. Ada beberapa anak muda yang tampaknya begitu mengenal YIIPS.
Pembicaraan kami ke sama kemari, untuk mendapatkan informasi tentang YIIPS, kami bertanya tentang lokasi dan bagaimana pandangan anak muda terebut tentang YIIPS.
“Sekarang YIIPS bagus. Alumninya nilainya tinggi,” tutur Supriyadi, si anak muda tersebut. Wah rupanya dia cukup tahu. Padahal dirinya tidak tuntas menyelesaikan studi sampai SLTA. Ketika ditanya mengapa tidak melanjtukan, “saat itu tidak ada biaya,” jawabnya. Agaknya dia tahu tentang sekolah gratis karena ada program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Makanya ketika dia ditanya tentang kira-kira hak yang menyebabkan anak-anak tidak sekolah, dia menjawab, “Dulu karena biaya, sekarang sekolah sudah gratis kok tetap ada yang tidak sekolah, saya kurang tahu masalahanya.” Jawabnya. Mislan, salah satu siswa MA YIIPS ketika di tanya, adakah kawan-kawn seusianya yang tidak sekolah? “ Yah, masih banyak?” Mengapa mereka tidak sekolah? “membantu orang tuanya melaut.” Saya cukup termangu mendengar pengakuannya.
Kalau di laut, gimana pelaksanaan shalatnya? Apakah anda diajari di sekolah?
“Gak, tapi guru fiqh pernah mengajar bahwa shalatnya pertama ngadap kiblat gitu.. terus selanjutnya jika kapal berputar-putar yang tidak apa-apa,” jawabbnya. Tentang guru YIIPS, dia hanya menjawabnya dengan tersenyum, “ya gitu lah..” gak tahulah makna dibalik ungkapan itu.
Pukul 18.00 lebih sedikit pak RT datang. Beliau langsung mengajak kami untuk naik ke rumah panggungnya.
Riswadi memberitahukan maksudnya, bahwa kedatangannya untuk bersilaturahmi sekaligus menggali informasi tanggapan masyarkat terhadap kebutuhannya akan pendidikan agama. “Masyarakat sangat membutuhkan pendidikan agama,” jawabnya dengan singkat. Ketua RT memandang bahwa pendidikan agama masih menjadi kebutuhan pokok, sehingga YIIPS masih menjadi madrasah harapan masyarkat.” Namun jika dikonsep dalam bentuk asrama, belum ada kejelasan tanggapan anak-anak . tapi pak RT sendiri menyekolahkan keponakan dan anaknya ke YIIPS. Kalaupun di YIIPS siswanya kurang banyak, karena di lingkungan Sebatik sini masyarakat masih melihat status negeri lebih dibanding swasta. “Tapi itu dulu, kalau sekarang sudah tidak begitu,” tuturnya menegaskan. Memang, sekolah negeri lebih menjanjikan di banding sekolah swasta. Sekolah negeri dipandang lebih bisa menelorkan lulusan yang berkualitas dan sarana menjadi memadai. Itulah yang menyebabkan kuantitas input YIIIPS berjalan perlahan bahkan cenderung stagnan. Memang, ketika hal itu dikonfirmasi ke pihak yayasan pengelolan MA YIIPS, “Sekarang, persepsi masyarakat masih seperti itu. Memandang sekolah negeri mempunyai nilai lebih dibanding swasta,” terang Abdul Sani, Kepala MA YIIPS.
Waktu yang tersedia memang cukup terbatas untuk menggali informasi dari Ketua RT 13 ini. Namun keterbatasannya itu kami manfaatkan untuk menggali info-info penting.
“Bagaimana sejarah awal berdirinya YIIPS ini? Bapak tahu gak?” tanya kami memulai pembicaraan yang lebih fokus. Sejenak, Pak RT berpikir dan kemudian menjelaskan perlahan, ”Dulu murid di YIIPS awalnya sedikit sekali. Bahkan para pendiri yayasan harus minta-minta ke orang-orang, dari rumah ke rumah, untuk memasukkan anak-anaknya ke madrasah di YIIPS tersebut. Bahkan pak Suniman sampai menyampaikan di saat khotbah jumat.”
Apakah, masyarakat juga dimintai partisipasinya untuk YIIPS?
“Ya, dulu kami bersama-sama memberi sumbangan ke YIIPS, yang mampu membelikan seng, yah seng yang dikasihnya, yang mampu tenaga, dia nyumbang tenaga, dan lain sebagainya?”
Sekarang, apakah pihak YIIPS sering meminta partisipasi ke masyarakat?
“Sekarang ini tidak pernah,” jawabnya singkat. “Kira-kira kenapa,” tanya tim menyelidik. “wah tidak tahu yah” jawabnya.
Berapa sering, masyarakat dilibatkan dalam rapat dengan sekolah?
“Jarang yah. Paling hanya 1 kali selama satu semester”
“Pas penerimaan raport yah.” Tanya riswadi menduga.
“Ya, begitulah,” jawabnya.
Bersamaan dengan itu, suara azan menggema. Lalu, tim harus pamit pulang. Selanjutnya, di bawah riswadi menanyakan kepada Mistan, yang kebetulah ponakan dari pak RT untuk bertemu nanti malam. “ajak kawan-kaannya yah.. sekitar 7 anak lah,” pintanya. “Yah.. nanti di usahakan,” jawab mistan. Sambil memberikan nomor HP-nya kepada Riswadi.
***
Hari menjelang malam. Sesudah menunaikan shalat isya’, kami ngobrol-ngobrol rencana penggalian informasi di hadapan anak-anak YIIPS ini.
Tiba waktunya, pukul 18.45, anak-anak yang kami undang bersdatangan ke penginapan. Lalu, saya dan riswadi mengajak mereka untuk mencari tempat café untuk bincang-bincang. Sengaja, pak Bukhari tidak kami ajak, karena ini adalah dunia anak muda, dunia gaul gitu…
Kami menuju jembatan dermaga terpanjang di Pulau Sebatik, di Sei Nyamuk. Karena di tengah-tengah jembatan dermaga tersebut terdapat café yang tepat untuk melakukan penggalian informasi. Saat itu, anak-anak yang datang berjumlah 7 orang, Mistan, Supriyadi, Iwan, (sisanya tidak saya ingat namanya).
Kami menggali informasi dari anak-anak ini mulai dari perasaannya belajar di YIIPS. “Yah.. lumayan, menyenangkan.”
“Apanya yang menyenangnkan,” celethuk anis. “Jam kosongnya atau sistem belajarnya, atau apanya..?” sambung riswadi.
Rupanya gayung bersambut celetukan tim, “Ya itu salah satunya, jam kosongnya,“ jawab temannya Mistan.
“Kira-kira siapa guru yang menarik dalam mengajarnya?”
mereka berpikir sejenak, lalu salah satu pengurus OSIS menjawab, “Saya melihat Pak Arif yang menarik,” jawabnya agak ragu. “kira-kira apa yang menarik?” tanya kami menyelidik. “Beliau kalau ngajar, cara menjelaskannya sampai benar-benar jelas. Kalau belum jelas, dijelaskan lagi hingga jelas,?” tuturnya menjelaskan.
Tapi, itu baru pembicaraan permulaan. Terasa masih ada rasa takut untuk mengungkapkan apa yang senyatanya. Mereka tampaknya menyadari kalau mereka akan digali infonya tentang YIIPS. Padahal kami seudah memnbawa pembicaraan ke alam mereka yang agak gaul.
“Kira-kira siapa guru yang sering tidak masuk?”
“Wah ada beberapa. Terutama yang nyambi di luaran.” Jawabnya agak takut. Siapa kira-kira. “itu yang pegawai kecamatan”
“Kalau bu Mus..?”
“Ibu itu, sebelum ngajar ngomel-ngomel meluluk.” Jawab salah satu muris YIIPS
”kalau yang lainnya gimana?”
“Ada yang banyak ceramahnya dari pada materi pelajarannya, dan lain sebagainya.” Jawabnya menjelaskan.
Kami juga menanyakan bagaimana perkembangan siswa, dan mengapa rekan-rekanya tidak ikut masuk di madrasah.
Supriyadi menjelaskan, “Masyarakat sini masih melihat status negerinya pak, jadi kalau negeri itu seolah ada masa depannya gitu.”
Obrolan kami bersama anak-anak siswa YIIPS dan pemuda ini sampai pukul 23.25. “Wah sudah malam nih. Gimana, pulang?” Tawaran anis.
Suasana saat itu memang agak menjenuhkan, karena anak-anak menjawabnya dengan jawaban yang serba terbatas dan jawaban yang singkat. Entah tim yang sudah tercium maksudnya, atau memang mereka tidak terbiasa dengan suasana seperti itu. Saya sendiri merasakan bahwa pembicaraannya sangat kaku dan membosankan. “Tidak menarik pembicaraan kami ini,” batin saya.
Kami harus menghentikan dulu dan dilanjukan kapan-kapan. Sebubarnya obrolan kami, kami menyimpulkan bahwa anak-anak di sini memang tidak terbiasa untuk aktif berbicara. Maklum anak-anak perkampungan.
Lalu kami menuju ke penginapan. “Astaghfirullah!!” ucap anis seketika. “Wah, bannya kayaknya bocor nih..”
“ Waduh! Kita harus dorong ini sampai hotel ini.” Keluh Riswadi yang kebtulah bertugas menuntun motornya.
Sempat khawatir juga di benak saya, tengah malam dorong motor. Jangan-jangan langsung diteriaki orang ‘Maling’ wah bisa berabe kalau gini. Kami gak bawa surat-suratnya lagi. Karena kami di warga pesisir laut, suku Bugis, dan lain sebagainya. Maka di kerumunan-kerumunan orang, tampaknya banyak juga yang menyadari dan menyapa kami, ” Kenapa pak?” tanya pedagang bakso.
“Bocor pak, adakah tambal ban dekat sini,” jawab dan sekaligus tanya Riswadi. “Malam gini gak ada pak,” jawab tukang bakso.
Melewati tempat orang-orang main kartu remi, kami juga menyapa. Dan begitu seterusnya hingga sampai ke penginapan. Sampai dengan selamat.