Senin, 17 Desember 2007

PAK SUNIMAN "BERISTRI" DUA

Ini adalah catatan lapangan Tim Perbatasan yang diketuai oleh Anis Masykhur,tanggal 6 Juli 2007.


Pak Suniman, adalah profile guru swasta yang unik, ulet, dan gemar berkelakar. Dia menyebutkan, bahwa setiap malamnya dia harus ke bagan (jaring penangkap ikan yang berada di tengah laut) sampai pagi, dan pulang menunaikan tugas keluarga dan pendidikan. “Saya mempunyai istri dua. Satu di rumah.. dan satunya lagi di Bagan…he..he…,” kelakarnya. Karena setiap harinya, dia harus ke bagan berangkan jam 15.30 Wita dan pulang di pagi harinya pada pukul 07.00 Wita. Baru kemudian dia menunaikan tugasnya sebagai seorang guru. “Makanya saya baru berangkat ngajar mulai pukul 09.00…” jelasnya. “Wah ini bukan Kepala sekolah yang baik,” komentar kawan-kawannya. “Inilah bedanya guru PNS dan bukan PNS. Saya lebih bebas beristri. Makanya pak Sani gak bisa ke mana-mana..”
“Eh..he.. ini jangan sampai kedengar ke jakarta yah.., rahasia,” tuturnya samnbil berkelakar.


Pak Suniman banyak menduduki sebagai kepala, “….Sebagai Kepala MI, Kepala BPD, Ketua MUI Sebatik, Kepala Keluarga.. he..he.. dan Kepala lainnya. Bahkan saya mau diangkat jadi kepala nelayan, tapi saya tidak mau,” tuturnya.
Sejarah YIIPS tidak bisa terlepas dari Pak Suniman ini. Sebab, hanya tinggal dia sendiri di Yayasan. Mas Daud rekannya pergi ke Malasyia untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Bagaimana sih awal inisiatif berdirinya YIIPS ini? Apa yang melatarbelakanginya?
“Saya merasa bahwa pulau Sebatik ini akan menjadi Kota di masa depan,” tuturnya mengawali pembicaran tentang sejarah YIIPS ini. “Sementara lembaga pendidikan yang ada sangat terbatas. Untuk itu perlu didirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan,” Pertama kali saya datang ke sini tahun 1989, karena mendapatkan perintah untuk mengabdi di Cabang Al-Khairat Sebatik. Mengapa muncul yayasan yang diberi nama Yayasan Islam Indonesia Pulau Sebatik?
“Saya dan Mas Daud awalnya berdebat untuk memberi nama As’adiyah atau Al-Khairat. Tapi jika menggunakan nama almamater, rasanya masyarakat akan kurang merasa memiliki. Makanya kami beri nama Pulau Sebatik ini,” Jelasnya. Ternyata ada juga alasan yang lebih mendalam, bahwa pendirian yayasan ini karena Al-Khairat yang dikelolanya merupakan cabang Al-Khairat Palu, Sulteng, yang tidak mempunyai otonomi mencari bantuan dana dan lain sebagainya.
Pada tahun 1989 dibukalah MTs dengan murid hanya 7 orang, dengan pengajarnya yang berganti-ganti. Suniman dan Mas Daud yang merupakan inisiator Yayasan secara menyeluruh menjadi guru andalan di yayasan ini. Kebetulan saat itu, dia belum beristri, sehingga relatif agak bebas. Menurut penuturan masyarakat, bahwa setiap orang yang mengabdi mangajar di Sebatik ini tidak akan bertahan lama, maksimal 3 bulan. “Karena mereka mengharapkan gaji,” duga Suniman. Ketika dirinya sampai di Sebatik ini, dia juga diduga masyarakat seperti itu pula. Suniman adalah sosok orang yang berprinsip, terutama dalam pengembangan dan peningkatan pendidikan. Tampaknya masyarakat juga memahami bahwa “kaburnya” para guru di Sebatik ini karena tiadanya gaji. Maka masyarkat juga berinisiatif untuk memberikan bayaran kepada Suniman. “Masyarakat dulu membayar saya sebesar Rp. 50.000,- setiap bulannya. Lalu, saya mencari informasi, dari mana uang tersebut. Ternyata masyarakat meminta-minta ke anggota masyarakat lainnya. Karena saya tahu itu, maka saya bilang, ‘dah…saya jangan digaji saja. Masalah rejeki gampang. Pemabuk.. penjudi saja dikasih rejeki Allah, apalagi saya yang baik seperti ini…’ Jadi kemudian saya digaji oleh masyarakat dengan sistem gaji ‘makan di rumah warga.’ Setiap kali datang jam makan, saya masuk ke rumah A.. makan siang di rumah B makan malam di rumah C. dan lain sebagainya. Begitu selama bertahun-tahun.. berputar-putar terus.” Sedangkan guru-guru yang lain digaji ala kadarnya. Tapi mereka mempunyai keikhlasan yang tinggi. Dan sekarang banyak orang-orang yang dulu ngajar di YIIPS sekarang menduduki posisi penting di pemerintahan. Ada yang menjadi camat, ketua Bapeda, diterima PNS dan lain sebagainya. “Wah.. YIIPS membawa berkah bagi orang yang ngajar yah…” komentar anis.. salah satu tim fasilitator.
Pada tahun 1996, MA baru didirikan. Tahun pertama hanya 1 orang saja.. lalu sampai di akhir tahun sampai 7 orang. Sekarang murid YIIPS menjadi ratusan. Untuk Siswa MTs-nya sebanyak 230-an, sedangkan siswa MA-nya sebanyak 140 anak, dan yang Drop out hanya 2 anak. ‘Wah.. dari 7 di tahun 1996 dan sekarang 138 anak merupakan kemajuan yang cepat yah…” komentar tim memuji.

Tidak ada komentar: