Senin, 17 Desember 2007

PERJUANGAN NELAYAN SEBATIK


Field Note 7 – 8 Juli 2007

Pukul 15.45 Wita, tim akan berangkat melaut. Perjalanan darat ditempuh selama 25 menit dari Sei Nyamuk—dimana tim bertempat tinggal—untuk mencapai dermaga di Sei Taiwan tempat salah satu nelayan Sebatik menjadikan pangkalannya. Perlu diketahui bahwa 60% penduduk sebatik ini berprofesi sebagai nelayan. Ada beberapa jenis nelayan di dalamnya; nelayan bagan, nelayan konvensional, dan pekerja dari para pemilik modal.
Nelayan konvensional adalah para nelayan yang pekerjaannya mencari ikan dengan cara memancing atau menebar jaring di tengah laut. Mereka memancing dengan serba keterbatasannya. Ratusan mata kail di sebar di sekitar kapal kecilnya. Siapa tahu ada ikan yang mampir ke mata kailnya. Hal itu di lakukannya hingga pagi dini hari.
Ada juga yang menjadi nelayan, bekerja pada pemilik modal. Merena menjalankan kapal kecilnya, modalnya, dan bahkan semua yang dilakukannya untuk pemilik modal. Mereka hanya mendapatkan gaji atau keuntungan bagi hasil dari hasil usahanya.
Sedangkan petani bagan, akan dijelaskan kemudian.
Sejenak, sebelum berangkat melaut tim berbincang-bincang dengan warga sekitar tentang pengalaman melaut. Bahwa hari ini akan turun dengan harapan “air mati”—sebuah istilah untuk menyebut keadaan laut tenang. Karena keadaan demikian ikan teri akan mendatanginya berbondong-bondong.
Sore itu, “speed”—sama dengan ketinting—terpaksa didorong karena air laut surut. Biasanya mereka baru melaut menunggu keadaan air laut pasang. Tim fasilitator menaiki satu speed menuju “bagan,” yakni sebuah tempat singgah bagi nelayan-nelayan yang ber”duit” untuk mencari mata pencahariannya.
Bagan dibangun dari kontruksi pepohonan pantai—sejenis pohon galam—yang biasanya mempunyai ketinggian 15 s.d. 25 m. Batang-batang pohon tersebut ditancapkan hingga mencapai dasar laut. Sebelum itu, seorang nelayan telah merakit lantai bagan di pantai. Rakitan tersebut kemudian diseret dengan kapal/speed ke tempat yang direncanakan untuk dibangun bagan.
Selanjutnya, batang-batang pohon yang telah ditancapkan tersebut di rakit sedemikian rupa di bagian permukaannya, lalu diikatkan dengan rakitan lantai bagan yang dibawa dari tepi pantau. Jarak ketinggian lantai bagan dengan permukaan laut berkisar antara 3 s.d. 5 m. Di tengah-tengah bagan dibangun sebuah pondokan kecil untuk tempat berteduh dari derasnya hujan dan kencangnya angin laut.
Sore ini, tim sampai di bagan sekitar pukul 18.00, lalu nelayan dan pekerjanya menurunkan jaring pukatnya untuk menangkap ikan teri dari laut. Di bawah pondokan dipasang lampu dengan penerangan tujuh buah lampu. Untuk apa? “Untuk menarik ikan teri agar datang,” katanya demikian.
Sementara, Umar—nelayan yang mengantarkan kami kebagan menghidupkan kapalnya untuk menuju tengah laut memancing ikan untuk menghidupi keluarganya.
Angin bertiup semilir ke arah daratan. Lalu laut tiba-tiba terasa tenang. Indahnya lautan di situlah terasa keagungan Allah Swt. Tapi, 15 menit kemudian, tiba-tiba angin bertiup kencang dari arah daratan. Maka, buru-buru kepala nelayan memerintahkan untuk masuk ke pondokan. Memang, angin terasa menusuk punggung. Kebetulan menjelang malam. Tiang-tiang bagan dihempas ombak, dinding-dinding pondokan terasa bergetar seolah hendak terangkat. Apalagi ketika hujan menyertainya. Lampu-lampu di luar pondok terpaksa harus dimatikan, khawatir terjadi konsleting. Lampu sorot bawah bagan yang dimaksudkan untuk memanggil ikan di malam hari bergoyang tertiup angin dan tersentuh deru ombak. Kepala nelayan terpaksa harus menaikkan lampu sorotnya.
Sejenak kami teringat berita sore yang diliput Televisi Swasta Indonesia, bahwa para nelayan di Malang Jawa Timur tidak pada turun mencari ikan, karena tingginya gelombang. “Wah jangan-jangan, gelombang akan muncul bersamaan angin ini,” batin kami.

Hujan deras menembus atap dan dinding pondokan bagan. Tim yang merasa ngantuk terpaksa tidur di atas kencangnya tiupan angin dan derasnya tetesan hujan dalam bagan. Kami membayangkan, bagaimana si Umar yang menuju ke tengah lautan mengatasi cuaca sedemikian mengerikannya. Yah… kami berbincang-bincang se maunya melupakan sejenak rasa kekhawatiran dari cuaca yang mendadak berubah tersbut. Perut terasa lapar, apa boleh buat.. rencana hendak makan ikan di atas bagan kandas, karena ikan tiada didapat. Kami makan nasi bersama sayur kangkung agar perut tidak terserang penyakit. Hujan beserta angin masih terasa kencang. “Biasanya berapa lama keadaan seperti ini?” tanya saya penuh kekhawatiran. “Jika beserta hujan seperti ini biasanya hanya 3 jam,” tuturnya menjelaskan. “Tiga jam?” batin saya. “Wah lama sekali,” namun kami tidak mengeluarkannya. Jikalau bagi nelayan, tiga jam tersebut hanya sebentar.
Pembicaraan mengenai perjuangan pendidikan dan Politik di Pulau Sebatik ini cukup membuat kami lupa suasana di luar. Tibalah rasa kantuk datang.
Apa boleh buat, jikalau mata sudah merasa ngantuk. Tidurlah tim dengan keadaan serba dingin. Beberapa kali kami terbangun untuk melihat apa yang telah dilakukan para nelayan ‘bagan’ ini. Sungguh luar biasa. Mereka masih terjaga, menjaga pukatnya dan bagannya. Sambil memancing di laut lepas, mereka menunggu keadaan air tenang mengharap ikan teri masuk jaringnya. Saat itu mereka menarik jaringnya ke atas, namun sayang, tidak banyak ikan teri yang didapat. Ada cumi kecil, ikan putih, dan lain sebagainya. Yah… jikalau ditimbang paling hanya 2 kg totalnya. Mereka tidak putus asa. Jaring diturunkan kembali, untuk mengambil rezeki yang disediakan Allah di lautan lepas. Sesekali, kami terbangun untuk membetulkan posisi tidurnya samnbil mencari apa yang bisa dijadikan bantal untuk tidur. Kepala terasa agak pening, karena di serang angin sana-sini. “Wah.. kayaknya masuk angin nih,”
Sambil menunggu ikan-ikan masuk ke pukatnya, si nelayan melempar pancing ke tengah laut. “Dapat ikan..,!” teriaknya. Tampak ada raut kegembiraan mendapatkan ikan cukup besar. Ikan Arud namanya. Hal itu dilakukannya beberapa kali. Saya lihat ada ena, ekor di kotaknya. Saya tidur lagi, karena hari masih tengah malam. Pukul 05.15 saya terbangun. Keadaan cuaca begitu terang. Para nelayan bagan sedang menarik pukatnya dan mengambil ikan terinya. Tampak ada ubur-ubur masuk jaring. Tapi ubur-ubur tersebut dibuang, “kenapa?” tanyaku. “Dagingnya gatal,” jawab Johan, salah satu pegawainya. Bersamaan dengan itu pula, Ketua nelayan berteriak, “dapat ikan..!” Rupanya dia dapat ikan lagi. Dan cukup besar, sekitar 5 kg. “Dapat ikan surga!” teriak gembira Sholeh, anak seusia kelas 4. Dia menyebut ikan merah dengan ikan Surga. Saya kurang tahu mengapa disebut demikian. Dugaan sementara, karena harga ikan merah cukup mahal, dan dagingnya terasa enak.
Sementara itu, para nelayan beserta pekerjanya mengolah ikan teri yang di dapatnya, memilahnya dan mempersiapkannya untuk dimatangkan, agar tidak bau amis. Yah… itulah yang dilakukan para petani ikan yang mempunyai ‘bagan.’
Biasanya mereka bisa memetik hasilnya setiap setengah bulannya mencapai 2,5 s.d. 5 juta atau sekitar 1000 s.d. 2500 Ringgit malaisyia. Mereka menjual ikan-ikannya ke para toke’ atau juragan-juragan cina Malaisyia. Mengapa ke sana? “Karena mereka membelinya dengan harga tinggi,” tutur sang nelayan.

Tidak ada komentar: