Field Note 8 Juli 2007
“Kasus deportasi TKI ilegal dari Malasyia beberapa tahun itu membawa berkah bagi Sebatik ini.” Komentar Mus Mulyadi, Sekretaris YIIPS yang juga sekaligus mantan Sekretaris urusan logistik untuk TKI saat itu. “Karena deportasi tersebut, di Nunukan ada Rumah Sakit, Kantor Kapolres, dan perhatian pemerintah meningkat,” tuturnya.
“Apalagi setelah kasus Ambalat. Perhatian pemerintah terhadap perbatasan makin meningkat, jalan-jalan mulai diperbaiki, listrik jarang mati, dan lain-lain.”
Yah.. begitulah komentar beberapa warga perbatasan. “Sengsara membawa nikmat, kata roma Irama,” tutur Suniman menimpali pembicaraan.
Memang, perjalanan kami dari Pelabuhan Bambangan menempuh jalan yang masih dalam proses pengerasan. Jalan dipenuhi kerikil pra aspal sepertiganya jarak Bambangan – Sungai Nyamuk. Itu menunjukkan bahwa proses pembukaan dan perbaikan jalan baru beberapa tahun terakhir.
“Keadaan seperti itu sudah baik pada tempatnya… he…he..,” begitulah jawabnya ketika kami menanyakan kondisi jalan via telpone dengan tertawa ke Pak Sani, Kepala MA YIIPS.
Kasus ambalat sendiri bagi warga Sebatik bukanlah peristiwa yang luar biasa. Bahkan ketika beberapa warga di tanya tentang kemauan Malasyia memasukkan Sebattik sebagai bagian dari wilayahnya, warga malah menjawab, ‘Kami mau Sebatik dimasukkan ke dalam wilayah Malasyia, tapi harus bersama-sama warga di dalamnya. Tapi kalau hanya mau tanahnya, mendingan berdarah-darah,” komentar Supardi, seorang pemuda yang berusia antara 20-25 an.
Bahkan ketika kapan KRI mondar-mandir di lautan Sebatik, malah menjadi tontonan yang menarik bagi warga.
Kasus perbatasan makin mempercepat pembangunan perbatasan. “Sebentar lagi, Sebatik akan menjadi kota Besar,” kata Suniman, salah satu tokoh masyarakat.
Jikalau dilihat dari peredaran mata uang, kehidupan Sebatik lebih dekat ke Malasyia. Mata Uang ringgit lebih banyak beredar dibanding rupiah. Jalur perdagangan lebih banyak ke Tawau di banding ke Nunukan apalagi ke Balikpapan. Makanan-makanan kecil yang dijajakan juga lebih banyak produksi Tawau, Malasyia. Hampir tiada jajanan yang merupakan produk Indonesia. Inilah yang secara perlahan akan menggerus semangat dan nilai kebangsaan.
Jakarta diharap peka terhadap keadaan seperti ini.
Rabu, 02 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar